Breaking News:

Melalui Buku, Founder Jababeka Bicara Kontribusi Pengusaha dalam Pembangunan Bangsa

Buku ini merupakan refleksi tentang keindonesiaan yang bisa menjadi roadmap untuk menggapai Indonesia sejahtera

istimewa
Narasumber acara bedah buku Building A Ship While Sailing karya S.D. Darmono di Menara Batavia, Jakarta, Selasa (30/7/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Founder sekaligus Chairman Jababeka Group Setyono Djuandi Darmono mengungkapkan peran pengusaha dalam pembangunan bangsa melalui sebuah karya buku yang berjudul "Building a Ship While Sailing".

Buku tersebut merupakan buku kelima yang ditulis Darmono selain Think Big, Start Small, Move Fast dan One City, One Factory.

Buku itu juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh The Straits Times Press Pte Ltd, Singapura yang diedarkan di pasar Singapura dan Malaysia.

Prof Komaruddin Hidayat Rektor UII mengatakan, buku ini merupakan refleksi tentang keindonesiaan yang bisa menjadi roadmap untuk menggapai Indonesia sejahtera karena diuraikan secara mendalam dan penuh makna.

Menurutnya, alam pikiran pembaca dibawa menuju rumah Indonesia yang hidup, terang, penuh peluang dan harapan.

"Spirit ke-Indonesiaan yang dinyalakan dalam buku ini tidak hanya dipantik oleh romantisme kesejarahan masa lalu, namun juga bagaimana bangsa besar yang meraih kemerdekaan dengan berdarah-berdarah ini bangkit melanjutkan perjuangan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada untuk keluar dari jepitan persaingan global negara-negara penguasa ekonomi dunia," urai Komarudin di acara bedah buku Building A Ship While Sailing karya S.D. Darmono di Menara Batavia, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Didalam buku ini juga, kata Komarudin, penulis mengingatkan kita untuk napak tilas, untuk mengenang bagaimana bangsa ini didirikan didasari nilai nilai yang mulia.

"Darmono melihat Indonesia sebagai sebuah kapal di tengah samudera. Namun, Indonesia itu tetap indah sekali, tapi ada orang orang yang tidak bisa mensyukuri, bahkan yang ngerusak rumah indonesia ini, yang sebebas apapun kita bicara padahal kalau kita bicara seperti itu ditimur tengah langsung masuk tahanan, tapi disini bebas sekali. Bebas itu baik, tapi hendaknya kebebasan yang bertanggung jawab, memiliki aturan sehingga tidak merobohkan bangunan rumah ini. Buku ini mengajak kita untuk berkolaborasi, secara bersama-sama membangun kapal besar bernama Indonesia," ujarnya.

Selain itu budayawan Mohamad Sobary menilai kondisi masyarakat kita, makin hari makin kehilangan rasa kagum, kemanusiaan yang dahsyat tidak dikagumi lagi, yang dikagumi adalah dirinya sendiri dengan ideologinya sendiri, pak darmono tidak seperti itu, ia mengagumi tokoh tokoh besar para pendiri bangsa.

"Pada bagian akhir buku ini, disebut kekaguman Darmono kepada bung karno, kepada syahrir kepada sejumlah tokoh nasional dan kekagumanya itu tidak hanya berhenti di kekaguman saja. Kekaguman itu bagian dari apa yang beliau sudah jalankan selama ini," kata Sobari.

Halaman
12
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved