Sanksi Pidana Tak Bikin Jera, Mantan Koruptor Harus Dilarang Maju Pilkada

Dalam banyak kasus, kata dia, koruptor bisa disambut meriah sepulangnya dari tahanan.

Sanksi Pidana Tak Bikin Jera, Mantan Koruptor Harus Dilarang Maju Pilkada
Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti saat ditemui di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (31/1/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pengamat politik Ray Rangkuti menilai permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar partai politik (parpol) tidak mencalonkan lagi mantan koruptor dalam pelaksanaan pilkada merupakan yang semestinya diperhatikan secara serius oleh para pimpinan Parpol.

Karena faktanya pemidanaan terhadap koruptor tidak dengan sendirinya dapat menghentikannya untuk tidak melakukan korupsi lagi.

"Telah banyak kasus, mantan koruptor terlibat lagi dalam hajat pemerintahan lalu kembali melakukan korupsi," ujar Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia kepada Tribunnews.com, Selasa (30/7/2019).

Menurut Ray Rangkuti, korupsi di negera ini sudah seperti kebiasaan.

Karenanya koruptor tidak pernah dipandang sebagai kejahatan apalagi kejahatan luar biasa.

Pun bagi para pelakunya seperti tidak ada kata jera dan permintaan maaf karena memang mereka melihat bahwa pemidaan yang mereka alami adalah penegakan hukum yang tidak tepat.

"Mereka memandang bahwa mereka adalah objek dari penegakan hukum yang tidak adil. Di sinilah sebab mengapa para koruptor seperti tidak pernah jera untuk terjun kembali ke politikt dan bahkan seperti tidak pernah bersalah," tegasnya.

Baca: Hakim MK Minta KPU Hati-Hati Rekrut Petugas Pemilu dan Belajar dari Kasus Saksi PKB

Saat yang sama, penerimaan masyarakat terhadap mantan koruptor juga terlalu ramah.

Dalam banyak kasus, kata dia, koruptor bisa disambut meriah sepulangnya dari tahanan.

Itu jugalah sebabnya mengapa dalam beberapa pilkada atau pemilu secara umum mereka yang pernah dipenjara karena kasus korupsi masih dapat terpilih kembali.

Halaman
123
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved