Hadapi Kekeringan, Petani Dianjurkan Membuat Sodetan Sungai

Petani yang lahan sawahnya dekat dengan sungai dianjurkan membuat saluran sodetan sungai untuk mengatasi kekeringan. Seperti yang dilakukan petani di

Hadapi Kekeringan, Petani Dianjurkan Membuat Sodetan Sungai
Tribuncirebon.com/Ahmad Imam Baehaqi
Ilustrasi kekeringan 

Petani yang lahan sawahnya dekat dengan sungai dianjurkan membuat saluran sodetan sungai untuk mengatasi kekeringan. Seperti yang dilakukan petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menuturkan, pemerintah telah mengupayakan berbagai upaya untuk mengatasi kekeringan tersebut, utamanya bagi daerah yang terkenal rawan kekeringan.

Mulai dari perbaikan saluran irigasi (jitut dan jides), mobilisasi pompa air untuk mengamankan standing corp terutama pada daerah yang masih memiliki sumber air (sumur pantek, sungai dan lain sebagainya).

"Atisipasi kekeringan terus akan dilakukan. Utamanya agar dampak kekeringan tidak semakin meluas dan daerah yang mengalami kekeringan bisa terselamatkan produksinya," ujar Sarwo Edhy, Minggu (4/8).

Memang, banyak cara yang bisa dilakukan petani untuk mengatasi kekeringan. Petani di Desa Sindangkerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, misalnya.

"Mereka membuat sodetan sungai agar air bisa dialirkan ke sawah-sawah. Kelompok Tani (Poktan) Sri Lestari II di desa itu yang berinisiatif membuat sodetan tersebut,” kata Sarwo Edhy.

Kepala Seksi (Kasie) Mitigasi Iklim, Subdirektorat Iklim, Konservasi Air dan Lingkungan Hidup, Direktorat Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP), Dyah Susilokarti, menambahkan, petani memanfaatkan air dari saluran pembuangan di Kali Pararel Kumpul Kuista.

Mereka membuat saluran sodetan sepanjang 36 meter dengan terpal dan air didistribusikan dengan saluran air sepanjang 750 meter ukuran lebar 120 cm dan kedalaman 50 cm. Ujung saluran pun berada pada posisi 750 meter dari ujung sodetan.

“Walaupun sumber air lebih rendah dari lahan, tetapi debit besar (6 liter/detik), sehingga mampu mencapai lokasi sejauh lebih kurang lebih 1 km,” tegas Dyah.

Kreativitas dari poktan ini terpantau ketika kegiatan monitoring kekeringan yang dilakukan Tim Ditjen PSP melakukan monitoring kekeringan di wilayah Pantura.

Halaman
123
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved