Sabtu, 18 April 2026

Ajak Masyarakat Gunakan Produk yang Ramah Lingkungan dan Aman bagi Kesehatan

Jumlah sampah plastik akibat penggunaan botol dan wadah makanan plastik sekali pakai sudah di tingkat yang sangat mengkhawatirkan

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews/Herudin
Instalasi seni dari sampah plastik diperlihatkan pada Pameran Laut Kita di Jakarta, Senin (22/4/2019). Pameran tersebut bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahayanya sampah plastik yang dapat merusak lingkungan. Tribunnews/Herudin 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Praktisi Lingkungan dari Waste4Change, Hana Nur Auliana menyatakan, salah satu penyumbang plastik ke laut adalah dari botol plastik sekali pakai yang tidak didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Salah satu riset yang dilakukan oleh Profesor Jambeck  dari Universitas Georgia menyatakan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik kedua di dunia.

Ini pula yang mendorong  Waste4Change terus menerus mengkampanyekan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengobah pola konsumsi dan gaya hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan

Dengan pola 3R, masyarakat dapat mulai untuk menggunakan ulang botol plastik jika masih menggunakan atau mendaur ulangnya.

"Namun, yang paling penting adalah dengan mengurangi penggunaan botol sekali pakai dan mulai menggantinya dengan produk-produk yang berbahan stainless steel,” katanya di sela-sela beberapa varian produk Thermos® di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Sampah botol plastik sangat sulit diurai. 

Di tanah botol plastik dapat menghalangi peresapan air dan sinar matahari, sehingga mengurangi kesuburan tanah dan dapat menyebabkan banjir.

Sementara di lautan secara leluasa dapat terpapar sinar ultraviolet matahari, kemudian terjadilah fotodegradasi yang memecah plastik menjadi ukuran kecil-kecil.

Akhirnya bahan beracun dari plastik yang telah terpecah-pecah itu masuk dalam rantai makanan, termakan oleh makhluk hidup di laut, dari yang terkecil hingga yang terbesar dan manusia yang mungkin berada dalam urutan teratas rantai makanan tersebut, mendapatkan efek akumulasi dari bahan-bahan beracun itu.

Lalu di udara komponen plastik pada botol yang bertebaran dapat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Dilansir dari World Atlas, Indonesia menjadi negara ke-4 pengguna botol plastik terbanyak di dunia. Tercatat penggunaan botol plastik di negara Indonesia mencapai 4,82 miliar.

Data dari Euromonitor pun menyebutkan, berdasarkan pertumbuhan rata-rata (CAGR) di Indonesia, pasar produk plastik rumah tangga terus mengalami peningkatan hingga tahun 2018 mendatang.

Hana mengapresiasi langkah dan komitmen dari Thermos® yang telah berkontribusi terhadap pengurangan dampak limbah sampah plastik dengan menghadirkan produk yang ramah lingkungan yang dapat digunakan berkali-kali sehingga tidak menimbulkan banyak sampah ke lingkungan.

"Langkah kecil ini dapat menginspirasi masyarakat untuk mulai peduli terhadap lingkungan sekitar sehingga Indonesia tidak lagi menjadi negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia,” tutup Hana dalam acaratersebut," katanya.

Andriani Melissa, Marketing Manager PT Thermos Indonesia Trading menyebut, semua produk Thermos adalah produk yang ramah lingkungan dan tidak mengandung materi berbahan plastik sehingga aman bagi kesehatan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved