Kongres PDI Perjuangan
Benarkah Pengganti Megawati di PDIP Harus Trah Soekarno?
Hingga kini belum ada orang yang dianggap mampu menyamai kharisma Mega, yang menjabat orang nomor satu PDIP sejak 1999.
"Tidak ada ketua partai yang dapat menandinginya: dua kali menang pilpres dan pileg. Partai lain masih sibuk soal siapa ketua umum, tapi capaian suara kurang. PDIP tidak ada persoalan sama sekali."
"Dilihat dari banyak aspek, Mega masih sangat layak. Kader partai meminta Mega dikukuhkan lagi secara aklamasi. Suaranya bulat," tutur Andreas.
Beberapa partai politik lain menggelar pemilihan ketua umum lewat mekanisme terbuka.
Golkar menyelenggarakan konvensi sejak 2004. Demokrat sempat menggelar pemilihan ketua umum terbuka tahun 2014, tapi batal menetapkan kemenangan Dahlan Iskan.
Sementara PKS dan PPP memiliki lebih dari satu calon ketua umum dalam pemilihan terakhir yang mereka gelar.
Bagaimana peluang Risma, bahkan Jokowi?
Eros Djarot menyebut pernah muncul kesepakatan tak tertulis di internal PDIP bahwa pengganti Mega harus trah alias keturunan Soekarno.
Namun ia menilai keputusan itu belum terang-benderang: keturunan langsung atau penerus daerah sang proklamator.
"Pengertian trah itu apa, garis partriaki? Artinya Guntur (kakak laki-laki Mega)? Atau sekedar darah, berarti Puan atau Prananda berpeluang," ujar Eros.
Bagaimanapun, Puan Maharani dan Prananda Prabowo, dua anak Mega, dianggap belum cukup modal menggantikan ibu mereka di tampuk kekuasaan PDIP.
Mada Sukmajati, dosen ilmu politik di Universitas Gadjah Mada, menyebut keduanya tidak punya legitimasi untuk memimpin partai banteng.
"Kepemimpinan Mega tidak semata mengandalkan status trah Soekarno, tapi juga perlawanan menghadapi kekuasaan otoriter Orde Baru. Itu legitimasi penguatnya," kata Mada.
Kalaupun Mega kembali menjadi ketua umum hingga lima tahun ke depan, Mada menilai PDIP harus sudah memikirkan dan menyiapkan calon pemimpin mereka berikutnya.
Namun hingga saat ini, stabilitas internal dan capaian partai dalam pemilu disebut Mada masih lebih penting bagi PDIP.
Ia berkata, prestasi anjlok Golkar di tengah pertarungan terbuka merebutkan kursi ketua umum merupakan preseden yang dihindari PDIP.
"Percuma jadi partai modern tapi kinerja elektoral tidak bagus dan tidak berkontribusi dalam kebijakan pemerintah."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kongres-ke-v-pdi-perjuangan-resmi-dibuka-di-bali_20190808_201747.jpg)