Hadapi Industri Masa Depan, Indonesia Perlu Tekankan Inovasi, Kolaborasi dan Investasi

Ketiga hal tersebut, menjadi pilar penting untuk memastikan industri strategis yang bisa menjadi lokomotif untuk mewujudkan Indonesia maju

Hadapi Industri Masa Depan, Indonesia Perlu Tekankan Inovasi, Kolaborasi dan Investasi
Warta Kota/Henry Lopulalan
SURAT SOMASI - Ketua DPP Partai Nasdem Syahrul Yasin Limpo membacakan surat somisi saat jumpapres di Kantor Nasdem, JL RP Soeroso, Gondangdia, Menteng, Kota Jakarta Pusat , Selasa (11/9). Surat somosi terkait dengan pernyataan Rizal Ramli yang dianggap menfitnah Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Presiden Jokowi dalam acara disalah satu acara telivisi nasional 6 September lalu untuk di tarik. (Warta Kota/Henry Lopulalan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menghadapi tantangan industri masa depan, ada tiga hal penting yang harus dilakukan yakni inovasi, kolaborasi dan investasi.

Ketiga hal tersebut, menjadi pilar penting untuk memastikan industri strategis yang bisa menjadi lokomotif untuk mewujudkan Indonesia maju.

"Tanpa inovasi kita akan berjalan di tempat dan jangan membayangkan Indonesia yang lebih baik. Maka itu, inovasi harus dikedepankan dan komitmen pemerintah sangat serius. Penyiapan anggaran riset di tahun-tahun mendatang disiapkan dalam jumlah signifikan besarnya dibanding sebelumnya," ujar Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Selain inovasi, kata SYL, bangsa Indonesia harus membangun kolaborasi yang kuat.

Pasalnya, jika berjalan sendiri-sendiri, akan memakan waktu yang lama terutama untuk menyiapkan tenaga-tenaga muda yang menguasai teknologi kekinian dan masa depan.

"Jadi sambil melakukan investasi untuk membangun sistem dan manusia yang mengoperasikannya, kolaborasi adalah pilihan terbaik," kata SYL.

Ia lantas mencontohkan bagaimana berbagai pihak berkolaborasi memproduksi sarana transportasi yang menggunakan bahan bakar yang terbarukan dan ramah lingkungan.

Dalam konteks itu, kata SYL, maka produksi mobil konvensional akan ditinggalkan dan bangsa Indonesia akan melakukan lompatan besar memproduksi mobil yang ramah lingkungan dan yang bebas asap pembawa polusi udara.

Karena itu, menurut dia, industri mobil berbahan bakar tenaga surya atau minimal menggunakan tenaga listrik menjadi pilihan-pilihan kebijakan pembangunan industri masa depan dari pemerintah.

Halaman
12
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved