Jadi Guru Besar PTIK, Yasonna : Seperti Pulang Kampung

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Rabu (11/9).

Jadi Guru Besar PTIK, Yasonna : Seperti Pulang Kampung
Vincentius Jyestha/Tribunnews.com
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Rabu (11/9). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Rabu (11/9).

Ditemui pasca acara, Yasonna merasa bahagia lantaran pengukuhannya sebagai guru besar layaknya pulang kampung.

Pasalnya, pada awal karirnya Yasonna berprofesi sebagai dosen. Dari dosen, barulah ia menyeberang ke ranah politik.

"Satu kebahagian bagi saya jadi keluarga besar PTIK, seperti pulang kampung. Karena memang awalnya karir saya dosen. Dosen masuk politisi," ujar Yasonna, ditemui pasca acara, di Auditorium PTIK, Jl Tirtayasa, Jakarta Selatan, Rabu (11/9/2019).

Baca: Fahri Hamzah Interupsi Zainal Arifin hingga Rebut Mikrofon Arteria Dahlan, Karni Ilyas Beri Teguran

Baca: Jalani Radiasi Kedua, Ria Irawan Dapat Semangat Cinta, Pria Ini Bilang Love You

Baca: Viral Motor Nyangkut di Pohon Bambu & Dikaitkan dengan Hal Mistis, Begini Kesaksian Warga Setempat

"Di akademik saya pernah jadi pembantu dekan, pembantu rektor 2. Masuk politik lupa kampus, sekarang balik," imbuhnya.

Ia berharap apa yang menjadi ketertarikannya, yakni di bagian cyber crime, cyber bullying, dan cyber victimization, dapat melihat fenomena media sosial bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.

Menurutnya, pengalaman demokrasi di negara lain pun harus diteliti, dijelaskan secara ilmiah dan merujuk kepada revolusi industri 4.0 dimana penggunaan teknologi sudah mengarah ke manusia.

"Kita lihat di revolusi industri generasi empat dengan internet of things, big data, dengan teknologi robotik, printing dan lain lain itu bisa bermata dua baik dan jahat," ungkapnya.

"Ini bagian kecil dari siberkrim, bisa bagian perbankan, terorism dan merusak sistem bank masukan virus, rusak, berapa kerugian. Jadi ini catatan saya lihat dan saya rasa kenapa juga. Dalam waktu dekat kita masuk pilkada kita harap kita dapat gunakan teknologi medsos untuk kepentingan baik, jangan merusak," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved