Kisah Yussi Perdana, Milenial yang Memilih Jadi Pengusaha Radar Pertahanan

Yusi menceritakan betapa sepinya peminat jurusan radar di tempat ia mendapatkan gelar Masternya dulu, Institut Teknologi Bandung (ITB)

Kisah Yussi Perdana, Milenial yang Memilih Jadi Pengusaha Radar Pertahanan
Tribunnews.com/Gita Irawan
CEO PT Radar Telekomunikasi Indonesia Yussi Perdana Saputera (31) di samping radar produksinya usai Diskusi Jakarta Defence Studies di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta Pusat pada Kamis (7/11/2019) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dengan santun dan ramah, CEO PT Radar Telekomunikasi Indonesia Yussi Perdana Saputera (31) mengenalkan dirinya sebagai pengusaha milenial di bidang pertahanan.

Mengenakan setelan jas formal, ia tampil di hadapan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Bondan Tiara Sofyan, Wakil Ketua Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia Marsekal Madya TNI (Purn) Eris Haryanto dan sejumlah orang penting lainnya di bidang industri pertahanan.

Baca: Moeldoko Jamin Adanya Wakil Panglima Tak Munculkan Dualisme di TNI

Seperti layaknya pemuda lainnya, ia tampak penuh percaya diri menyampaikan presentasinya tentang usaha yang ia tekuni yakni bisnis produksi radar pertahanan.

Ia membuka pemaparannya dengan menjelaskan awal mula ia terjun di bisnis teknologi elektronika perang tersebut.

Yusi menceritakan betapa sepinya peminat jurusan radar di tempat ia mendapatkan gelar Masternya dulu, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia mengatakan dirinya satu-satunya laki-laki dari empat orang mahasiswa yang belajar tentang radar di jenjang Master itu.

Setelah lulus, hanya ia yang tetap bertahan bekerja di bidang radar, khususnya produksi radar.

"Tiga teman saya itu setelah lulus tidak berkecimpung di bidang radar ataupun telekomunikasi. Yang satu daftar PNS di Pemerintah Kota. Lainnya ada yang jadi pegawai Bank," kata Yusi yang diiringi tawa dan senyuman para hadirin Diskusi Jakarta Defence Studies di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta Pusat pada Kamis (7/11/2019).

Ia mengatakan, alasan teman-temannya yang tidak meneruskan pekerjaan di bidang radar karena masih belum ada wadah untuk itu.

Halaman
1234
Penulis: Gita Irawan
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved