Polemik APBD DKI Jakarta
Komentari Polemik Anggaran DKI Jakarta, Ridwan Saidi Singgung Pohon Angsana dan Beri Wejangan Ini
Ridwan Saidi mengomentari polemik APBD DKI Jakarta dengan menganalogikannya dengan 3 hal, Konsep Konghucu, Pohon Angsana, Bangunan Budaya di Kota.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
"Mungkin pengkritik, penggemar babakan angsana, karena babakan angsana kalau diseduh airnya bisa menyembuhkan bengkak-bengkak di tenggorokan," jelasnya
Dari analogi tersebut, Ridwan menyampaikan kritikan yang muncul ketika angsana ditebang, ada beberapa orang yang membutuhkan angsana.
"Mungkin si pengkritik mengalami gangguan semacam itu. Sehingga dia akan kesulitan kalau angsana itu ditebang," tegasnya.
Baca : Ahok Diisukan Tempati Posisi Vital BUMN, Ini Harapan Staf Khusus Kementerian BUMN
3. Bangunan Budaya
Ridwan Saidi kembali memberikan pendapat terkait bangunan kebudayaan.
Ada beberapa bangunan yang menjadi ikon kota.
Sebut saja Kota Cianjur yang memiliki dua bangunan purbakala berarsitektur Armenia di Pacet dan Kota Cianjur.
Pasuruan juga memiliki satu ikon, sedangkan Jakarta memunyai Kota Tua.
Sayangnya, Betawi tidak memiliki ikon seperti Istana Pagar Ruyung.
"Istana Pagar Ruyung kita tidak ada," katanya.
Dia lantas mengutip slogan Maju Kotanya, Maju Warganya yang merupakan slogan Anies Baswedan saat berkampanye di Pilkada DKI Jakarta.
"Lalu Maju Kotanya, Maju Warganya, kita tidak ada. Belum ada satu rumah adat atau rumah lama yang dipugar atau menjadi cagar Pemda DKI," ujarnya.
Ridwan Saidi mengatakan, tidak ada satu pun bangunan di DKI Jakarta yang mewakili peradaban Betawi.
"Yang di Srengseng Sawah itu bohong-bohongan. Itu rumah bikinan kemarin sore, jadi itu tidak mewakili. Kalau kita bilang, dia tidak mewakili peradaban Betawi," katanya.