Cegah Stunting Moeldoko Saran Setiap Keluarga Harus Punya Ayam

Indonesia merupakan negara dengan prevalensi stunting tertinggi ke-4 di dunia berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018.

Cegah Stunting Moeldoko Saran Setiap Keluarga Harus Punya Ayam
PEXELS.COM/Oleksandr Pidvalnyi
ILUSTRASI ayam 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - ‎Pemerintah terus melakukan upaya untuk menurunkan angka Stunting di tanah air dalam lima tahun terakhir.

‎Hasilnya angka stunting menurun dari 37,2 persen di tahun 2018 menjadi. 30,8 persen di 2019. Ini berkat kerja sama pemerintah dengan para pegiat stunting.

Diketahui Stunting merupakan kondisi dimana balita mengalami kekurangan gizi yang menyebabkan rasio tinggi badan terhadap umur mereka jauh lebih rendah daripada angka rata-rata pada anak seumurannya.

Indonesia merupakan negara dengan prevalensi stunting tertinggi ke-4 di dunia berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018.

Baca: Moeldoko: Paham Radikalisme Tidak Bisa Diabaikan

Presiden Jokowi sudah dari jauh-jauh hari menyatakan perang melawan stunting.

"Berbagai upaya pemerintah dengan seluruh pegiat dalam lima tahun terakhir mulai berdampak. Terbukti dengan penurunan angka stunting dari 37,2 persen di 2018 menjadi 30,8 persen. ‎Kurang lebih 1,7 juta balita terselamatkan," tuturnya, Jumat (15/10/2019) di kantor KSP, Jakarta.

Meski ada penurunan, kata Moeldoko, angka itu masih dipandang rendah oleh Presiden Jokowi.

Moeldoko berpandangan Indonesia perlu meniru langkah India dalam mencegah Stunting.

"Di India ‎dulu, satu minggu setiap anak maka dua telor, sekarang makan lima telor. Sepertinya perlu dipikirkan setiap keluarga harus punya ayam. Penting ini dipikirkan, kalau masing-imasing keluarga punya ayam kan mereka tidak perlu beli telur," tuturnya.

Mantan Panglima TNI ini mengingat masa kecilnya yang memelihara ayam untuk sekolah. Untuk membayar buku, dia harus menjual telur ayam.

"Saya pelihara tiga ayam cukup untuk sekolah sendiri. Mungkin nanti perlu digiatkan setiap keluarga punya ayam," tambahnya.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved