Minggu, 31 Agustus 2025

GNPF Ulama Nilai Ucapan Sukmawati Lebih Rusak Daripada Ucapan Ahok 'Jangan Mau Dibohongi Pakai Ayat'

Laporan ini menjadi ketiga kalinya setelah pelaporan FPI DKI Jakarta dan politikus Partai Demokrat Imron Kalali.

Editor: Hasanudin Aco
KOMPAS.com / Nabilla Tashandra
Sukmawati Soekarnoputri menanyakan kepada peserta terkait pertanyaan Nabi Muhammad atau Presiden Soekarno, ingin tahu pengetahuan peserta FGD. 

Di situ, ia mengungkapkan kekesalannya kepada para oknum yang justru ingin mendirikan negara khilafah.

"Saya ingin bertanya lagi, di mana itu bendera hitam dengan tulisan Arab? Di mana?"

"Kok ujuk-ujuk sekarang berkibar-kibar seolah-olah mau mendirikan Negara Islam atau khilafah?" paparnya.

 Prabowo Minta Rapat Kerja Bareng Komisi I Digelar Tertutup, Sempat Debat dengan Effendi Simbolon

Dalam kesempatan itu, Sukmawati menyebut pihak-pihak tersebut sebagai orang yang durhaka dan kurang ajar terhadap perjuangan bangsa.

"Waktu kita bertempur penuh darah dan tangis keringat, ke mana mereka?"

"Jadi mungkin Pak NU bisa menjawab. Kok kurang ajar, durhaka, dan kualat?"

"Sedih, jengkel kalau melihat kenyataan yang ada ketika saya sudah nenek-nenek. Kok masih ada ya?" ucapnya.

Sukmawati lantas menyatakan kesal dengan maraknya tindakan radikalisme di Indonesia.

Apalagi, kelompok tersebut kerap membenturkan Alquran dan Pancasila.

Sukmawati pun kemudian menanyakan balik, mana yang lebih berjasa merebut kemerdekaan Indonesia, antara Muhammad SAW dan Soekarno.

Awalnya, Sukmawati berbicara mengenai tragedi Perguruan Cikini (Percik) yang terjadi pada 30 November 1957.

Ia menyebutkan, kejadian yang juga menimpa ayahnya, Soekarno itu, menjadi awal mula terjadinya terorisme di Indonesia.

"Di dalam perjuangan membangun bangsa dan negara Indonesia ini."

"Saya dari kecil umur 6 tahun, saya menjadi saksi hidup mulai adanyanya terorisme," ungkap Sukmawati.

Ketika itu, ia bercerita, Soekarno diserang oleh kalangan terorisme yang menggunakan granat saat mengunjungi Percik untuk membuka bazar.

 Ketum Pertama Nasdem Bilang Manuver Surya Paloh Memalukan, Sebut karena Kehilangan Kursi Jaksa Agung

Kedatangan Soekarno kala itu justru disambut oleh ledakan granat.

"Bung Karno diundang untuk membuka bazar. Bazar sudah siap sedia untuk menyambut Presiden datang."

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan