Kemendikbud: Kultur Belajar Harus Diubah untuk Meningkatkan Minat Baca

Totok meminta agar sekolah lebih melibatkan siswa dalam membaca, serta mendorong siswa untuk melakukan aktivitas membaca sebagai hiburan di waktu luan

Kemendikbud: Kultur Belajar Harus Diubah untuk Meningkatkan Minat Baca
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Karyawan Pertamina bercerita dan mengajak untuk membaca kepada siswa di Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Dreamable PKBM Hidayah, Kampung Cibisoro, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Senin (18/11/2019). Kegiatan mengajar pekerja Pertamina ini dalam rangka Pertamina Energi Negeri (PEN) 4, sebagai rangkaian kegiatan Voluntery Days di Pertamina. PEN 4 juga dilaksanakan di 18 kota di Indonesia. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan rilis Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, kemampuan membaca siswa Indonesia hanya mendapatkan skor 371.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Totok Suprayitno, menilai diperlukan perubahan kultur belajar untuk meningkatkan minat baca siswa Indonesia.

“Kita perlu mengubah kultur belajar kita tanpa harus menunggu instruksi atau proyek. Kultur belajar adalah habbit yang bisa dilakukan sejak besok,” ujar Totok melalui keterangan tertulis yang diterimanya Tribunnews.com dari Kemendikbud, Rabu (4/12/2019).

Baca: Kemampuan Membaca dan Matematika Siswa Indonesia Berada Pada Peringkat 72 dari 77 Negara

Totok meminta agar sekolah lebih melibatkan siswa dalam membaca, serta mendorong siswa untuk melakukan aktivitas membaca sebagai hiburan di waktu luang.

Dirinya menjelaskan untuk meningkatkan kemampuan membaca salah satunya adalah siswa yang dilibatkan oleh guru dalam pelajaran membaca.

Menurut rilis PISA siswa seperti ini memiliki skor membaca 30 poin lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak pernah atau jarang terlibat.

"Siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam seminggu untuk membaca sebagai hiburan di waktu luangnya, capaian skornya lebih tinggi 50 poin," kata Totok.

Totok menjelaskan pelaksanaan studi PISA tahun 2018 diikuti 399 satuan pendidikan dengan 12.098 peserta didik. Pada tahun 2018 Indonesia pertama kali mengikuti studi PISA berbasis komputer.

Dirinya menyebut bahwa hasil PISA tidak hanya sekadar skor dan ranking. Hasil studi PISA menjabarkan perilaku anak, kondisi belajar anak, latar belakang anak, cara mengajar guru, dan seterusnya.

Totok mengapreasiasi hasil studi PISA yang menunjukkan fakta bahwa siswa kurang beruntung secara ekonomi di Indonesia tetap bisa berprestasi.

Baca: Peringatan Hari Disabilitas Internasional, Momentum Perjuangan Hak dan Kesejahteraan Penyandang

Halaman
12
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved