Kode-kode Harun Masiku-Wahyu Setiawan di Kasus Suap PAW Anggota DPR

Kode-kode suap itu terungkap pada saat JPU pada KPK membacakan surat dakwaan atas nama Saeful Bahri,

Tribunnews/JEPRIMA
Mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020). Wahyu diperiksa sebagai saksi untuk Harun Masiku dalam kasus dugaan suap terkait penetapan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI terpilih 2019-2024. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU pada KPK) mengungkap kode-kode suap antara politisi PDI Perjuangan Harun Masiku dan mantan Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan.

Kode-kode suap itu terungkap pada saat JPU pada KPK membacakan surat dakwaan atas nama Saeful Bahri, kader PDI Perjuangan di ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (2/4/2020). Saeful didakwa memberikan suap senilai Rp 600 juta kepada Wahyu Setiawan.

Wahyu Setiawan terjerat kasus suap pergantian antar waktu anggota DPR RI periode 2019-2024 dari PDI Perjuangan di daerah pemilihan Sumatera Selatan I dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku.

Baca: Syekh Puji Bantah Telah Menikah dengan Anak Berumur 7 Tahun, Ungkap Diperas Hingga Rp 35 Miliar

Baca: Menikah di Tengah Malam, Ini Kronologi Terbongkarnya Pernikahan Siri Syekh Puji dengan Anak 7 Tahun

Berikut kode-kode suap itu:

1. Siap Mainkan

Pada September 2019, Saeful Bahri melalui Agustiani Tio Fridelina, mantan anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, menyampaikan kepada Wahyu agar dapat mengupayakan persetujuan dari KPU RI terkait penggantian Caleg DPR RI di Dapil Sumsel I dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku.

Pada awalnya, KPU RI menyatakan tidak dapat mengakomodir permohonan DPP PDIP karena bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku terkait Surat Nomor 1177/PY.01.1-SD/06/KPU/VIII/2019 perihal Tindak Lanjut Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 57P/HUM/2019 yang pada pokoknya meminta calon yang telah meninggal dunia atas nama Nazarudin Kiemas, Nomor urut 1, Dapil Sumsel I, suara sahnya dialihkan kepada calon atas nama Harun Masiku, nomor urut 6, Dapil Sumsel I.

Mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020). Wahyu diperiksa sebagai saksi untuk Harun Masiku dalam kasus dugaan suap terkait penetapan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI terpilih 2019-2024. Tribunnews/Jeprima
Mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020). Wahyu diperiksa sebagai saksi untuk Harun Masiku dalam kasus dugaan suap terkait penetapan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI terpilih 2019-2024. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Wahyu Setiawan memenuhi permintaan yang disampaikan Agustiani. Pada 24 September 2019, Saeful Bahri mengirimkan pesan WhatsApp (WA) kepada Agustiani untuk diteruskan kepada Wahyu Setiawan yang berisi Surat DPP PDIP Nomor 2576/EX/DPP/VIII/2019, perihal Permohonan Pelaksanaan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.57P/HUM/2019, tertanggal 5 Agustus 2019. Setelah menerima pesan tersebut, Wahyu membalas dengan isi pesan “Siap, mainkan”.

2. 1.000

Pada 5 Desember 2019, Saeful Bahri meminta Agustiani menanyakan kepada Wahyu mengenai besaran uang operasional yang diperlukan agar KPU RI dapat menyetujui permohonan penggantian Caleg DPR RI di Dapil Sumsel I dari Riezky Aprilia kepada Harun Masikudan menawarkan uang Rp 750 Juta dengan kalimat kurang lebih “Tanyain berapa biaya operasionalnya, kalau bisa 750”.

Halaman
123
Berita Populer
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved