Breaking News:

Kasus Novel Baswedan

Jaksa Agung Tak Terima Berkas Tuntutan Kasus Novel Baswedan

Pada persidangan 11 Juni lalu, jaksa menuntut kedua polisi aktif yang menyiram Novel dengan air keras

Tribunnews.com/ Theresia Felisiani
Jaksa Agung ST Burhanuddin 

"Kasus Novel Baswedan ini jadi evaluasi kami karena kita juga tidak salahkan jaksanya, karena biasanya jaksa menuntut berdasarkan fakta di sidang.

Nanti akan kami evaluasi kenapa jaksa sampai tuntutan demikian itu, karena itu tidak
sampai di saya tuntutannya," tutur dia.

Burhanuddin menyatakan, apabila nanti putusan hakim jauh lebih tinggi daripada
tuntutan, berarti ada yang tidak beres dari tuntutan jaksa. Namun jika putusan hakim tak berbeda jauh, kata Burhanuddin, berarti tuntutan jaksa sudah benar.

"Jaksa menuntut berdasarkan fakta di sidang dan akan kami balance dengan putusan pengadilan. Kalau (putusan dengan tuntutan) jomplang, berarti ada sesuatu, kalau balance pertimbangan jaksa dipakai hakim. Nanti kami lihat putusannya dan pasti akan kami evaluasi," kata Burhanuddin.

Persidangan kasus Novel sendiri telah memasuki agenda duplik atau jawaban
pengacara terdakwa terhadap replik jaksa.

Dalam sidang di PN Jakarta Utara, Senin (29/6) kemarin, pengacara kedua terdakwa mengaku sependapat dengan jaksa. Pengacara menilai tuntutan 1 tahun penjara sepadan.

"Penasihat hukum sangat sependapat terhadap tuntutan JPU yang menuntut hukuman pidana 1 tahun kepada kedua terdakwa karena tujuan persidangan bukan hanya memberikan hukuman ke terdakwa tapi juga pelajaran kepada masyarakat," kata Eddy Purwatmo, pengacara terdakwa Rahmat dan Ronny, saat membacakan duplik.

Menurut pengacara, seseorang yang sudah mengakui perbuatannya, layak diapresiasi.
Termasuk dengan ringannya tuntutan dari jaksa.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/6/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/6/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

"Pelajaran bagi masyarakat bahwa ada apresiasi berupa berat atau ringannya hukuman yang diberikan bila seseorang telah mengakui dan menyerahkan diri.

Bila terdakwa dituntut lebih berat maka tidak memberikan pembelajaran yang baik kepada masyarakat luas bahwa bagi pelaku yang jujur dan mau menyerahkan diri sudah sepatutnya diberikan penghargaan dengan tuntutan yang rendah dari penuntut umum," katanya.

Halaman
1234
Penulis: Dodi Esvandi
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved