Breaking News:

Virus Corona

Kasus Positif Covid-19 Masih Tinggi, Protokol Bertemu Presiden Makin Diperketat

Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan, di masa pandemi Covid-19, protokol kesehatan untuk bertemu presiden dibuat sangat ketat.

Tangkap layar channel YouTube Indonesia Lawyers Club
Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman. 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA  - Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan, di masa pandemi Covid-19, protokol kesehatan untuk bertemu presiden dibuat sangat ketat. Siapa saja yang akan bertemu Presiden harus rapid test terlebih dahulu. 

"Salah satu tantangan di masa Covid-19 itu adalah pertemuan dengan pak Jokowi itu protokol kesehatannya sangat ketat sekali. Saya saja apabila bertemu beliau haru rapid tes. Kalau dulu tinggal menyebrang langsung bertemu dengan beliau. Kalau sekarang tidak melalui rapid tes tidak boleh bertemu," kata Fadjroel dalam acara ngobrol bareng, Kamis, (2/7/2020).

Selama masa pandemi Covid-19, presiden juga selalu memberikan contoh mematuhi protokol kesehatan dalam beraktivitas, termasuk saat rapat bersama menteri.

Presiden tidak hanya mengeluarkan himbauan untuk mematuhi protokol kesehatan, namun juga memberikan contoh bagaimana mempraktekannya.

Baca: Angka Kematian Covid-19 Masih Tinggi, Pemerintah Kejar Penurunan Fatality Rate

Mulai dari menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker, hingga menghindari kerumunan.

"Sejak tanggal 2 Maret Indonesia terkena Pandemi Corona, sebagian besar kegiatan kan melalui video conference, praktis pertemuannya lewat video conference. Terakhir beberpa hari terkahir dalam satu bulan, sudah mulai tatap muka, termasuk dengan pak Ma'ruf, tentunya dengan protokol kesehatan," katanya.

Baca: Berpotensi Kembali Terinfeksi, Pasien Sembuh Covid-19 Tetap Wajib Patuhi Protokol Kesehatan

Selama Pandemi, Presiden menurut Fadjroel hampir selalu berkerja dari kantor. Presiden datang ke Istana pukul 08.00 Wib. Karena menurut Fadjroel, Presiden menilai bahwa kehadiran pemimpin di saat krisis sangatlah penting.

"Karena beliau menilai kehadiran seorang pemimpin di dalam masa krisis sangat menetukan. Makanya dalam pidato beliau mengatakan bahwa kita tidak boleh melihat krisis ini dengan cara yang biasa tapi dengan cara yang berbeda," kata dia.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved