Breaking News:

Hadapi Bonus Demografi, Pemerintah Disarankan Investasi di Dunia Pendidikan

Salah satu yang harus dipersiapkan dari sekarang menurut Sandi adalah investasi di dunia pendidikan

TRIBUN/Theo Rizky
Sejumlah murid SDN 15 Pekanbaru menggunakan masker yang didapat dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau saat belajar agar terhindar dari penyakit saluran pernapasan, Rabu (2/9/2015). Sebagian besar sekolah di Kota Pekanbaru khususnya PAUD, TK dan SD dari kelas I - III terpaksa meliburkan muridnya karena kondisi kabut asap yang dinilai sudah membahayakan kesehatan. TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi yakni jumlah penduduk usia produktif berusia 15-64 tahun lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif pada pada 2030 mendatang.

Berdasarkan data Bappenas, jumlah penduduk usia produktif ini diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Baca: Pengamat: Hadapi Bonus Demografi Pekerja, Indonesia Butuh RUU Cipta Kerja

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno mengingatkan bahwa bonus demografi yang terjadi di Indonesia tersebut bisa menjadi bencana demografi bila tidak ada langkah antisipasinya.

Salah satu yang harus dipersiapkan dari sekarang menurut Sandi adalah investasi di dunia pendidikan.

Sandi memaparkan bahwa penduduk Indonesia yang tahun 2019 ini berusia 7 tahun, rata-rata mereka berharap bisa mengikuti pendidikan 12 tahun atau hanya hanya lulusan SMA- sederajat.

“Bonus demografi itu akan berubah menjadi bencana demografi kalau kita enggak bisa ubah bahwa mayoritas anak usia 7 tahun ini cuma dapat pendidikan 12 tahun kedepan,” kata Sandi di Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini berharap pemerintah dan semua pihak benar-benar memikirkan masa depan mereka, sehingga bonus demografi menjadi peluang dan cita-cita Indonesia Emas 2045 terwujud.

“Mereka harus dapat kesempatan pendidikannya minimal sampai S1 (sarjana) selesai, dan sebagian S2 (magister) dan akhirnya S3 (doktor). Jadi bonus demografi itu bisa jadi bencana kalau kita gak invest di pendidikan. Jadi kita harus berikan kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi,” harap Sandi.

Pengagas Rumah Siap Kerja ini menyebutkan saat ini porsi tenaga kerja lulusan pendidikan menengah ke atas sangat minim.

Hal itu disebabkan keterampilan dan skill set mereka yang sangat terbatas.

Halaman
12
Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved