Kamis, 23 April 2026

Virus Corona

Menko Airlangga: Indonesia Termasuk 5 Negara yang Kontraksi Ekonominya Rendah

Airlangga mengatakan, apabila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia termasuk negara yang mengalami kontraksi ekonominya rendah.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Sanusi
Tribunnews/Irwan Rismawan
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (kiri) bersama Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah saat memberikan penjelasan tentang Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2020). Sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju memberikan penjelasan mengenai UU Cipta Kerja pascapengesahan dalam Rapat Paripurna DPR pada Senin (5/10/2020) lalu yang menimbulkan beragam gejolak publik. Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto mengatakan pandemi Covid-19 telah menyebabkan mayoritas negara di dunia mengalami resesi.

Namun, apabila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia termasuk negara yang mengalami kontraksi ekonominya rendah.

Hal itu disampaikan Airlangga dalam Konferensi pers virtual usai rapat terbatas dengan Presiden, Senin (12/9/2020).

Baca juga: Menko Airlangga: Realisasi Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional Capai 47,75 Persen

"Nah kalau kita lihat dari segi penanganan kesehatan dan kinerja ekonomi kita itu menjadi negara yang dibanding dengan negara lain kontraksi ekonominya rendah dan fatality rate-nya juga rendah," kata Airlangga.

Indonesia masuk dalam 5 negara yang kontraksi ekonomi dan fatality rate nya rendah. fatality rate atau jumlah kematian akibat Covid per 1 juta penduduk di Indonesia yakni 3,55 persen,

Menurut Airlangga, Indonesia hanya berada di bawah China, Taiwan, Lithuania, dan Korea Selatan.

"Jadi kita negara ke-5, Indonesia," katanya.

Baca juga: Airlangga: Arahan Presiden Unjuk Rasa Jangan Sampai Timbulkan Klaster Baru Covid-19

Sejumlah strategi dilakukan pemerintah untuk menahan kontraksi ekonomi akibat Pandemi Covid-19. Berbagai stimulus diberikan agar perekonomian tidak terperosok terlalu dalam.

Airlangga memproyeksikan pertumbuhan Ekonomi Indonesia antara minus 1 persen hingga positif 0,6 persen pada akhir 2020.

Salah satu strategi yakni dengan terus mendorong penyerapan anggaran Covid-19 . Penyerapan anggaran, baru sebesar 48 persen atau Rp 331,29 triliun dari total Rp 695,2 triliun per 7 Oktober lalu.

Adapun rinciannya untuk sektor kesehatan realisasinya 87,5 persen dari pagu anggaran, perlindungan sosial 78 persen, sektor Pemda 26 persen, UMKM 73 persen dan insentif usaha 23 persen.

"Dari segi program perlindungan sosial ini hampir 96 persen bisa dilaksanakan," katanya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved