Breaking News:

Virus Corona

Libur Panjang Akhir Oktober, Epidemiolog Ingatkan Kasus Covid-19 Indonesia Belum Terkendali

Dicky Budiman mengingatkan libur panjang akhir Oktober berpotensi menambah kasus positif Covid-19 hingga 30 persen.

Surya/Ahmad Zaimul Haq
Pengendara motor melintas di dekat dinding bermural di kawasan Ketabang Kali, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (18/10/2020). Mural di sepanjang dinding viaduk itu sebagai imbauan kepada masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengingatkan libur panjang akhir Oktober berpotensi menambah kasus positif Covid-19 hingga 30 persen.

Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat tetap berkegiatan di rumah.

"Jadi libur panjang ini punya potensi menyebabkan penambahan kasus.
Saya lihat libur pasca lebaran, ataupun HUT RI lalu dan Tahun Baru Islam, memang ada peningkatan di Indonesia," kata Dicky saat dihubungi Tribunnews.com, Rabu (21/10/2020).

Menurutnya, penambahan kasus positif virus corona akibat libur panjang, tak hanya terjadi di Indonesia.

Negara seperti Amerika Serikat dan negara di Eropa pun mengalami lonjakan kasus sampai 30 persen.

Baca juga: Libur Panjang Akhir Oktober 2020, Ketua MPR Imbau Masyarakat di Zona Merah Tetap Tinggal di Rumah

Meski demikian, hal itu tidak terlepas dari situasi pengendalian pandemi di negara tersebut yang belum terkendali.

"Dalam hal ini misalnya Indonesia yang positif ratenya masih di atas 16%," kata dia.

Ia pun mendukung apa yang disampaikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, agar masyarakat tetap berada di rumah.

"Saya dukung kalau bisa di rumah saja ya, apalagi sakit ya jangan kemana-mana. Level daerah Pemda ini bukan cuma imbauan, edukasi penduduk di wilayahnya agar tidak keluar daerah ketika libur panjang seperti ini. Lebih memilih menghabiskan waktu liburnya di daerah itu," terang dia.

Jika pun ingin melakukan aktivitas liburan, ada baiknya tidak ke luar kota dan memilih tempat wisata bernuansa alam.

"Misalnya tujuan berlibur ke wahana yang relatif lebih minimal resikonya misalnya di alam terbuka, hutan lindung kalau misalnya ke pantai dan tentu juga menerapkan namanya protokol kesehatan," jelas Dicky.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved