Harga Kedelai tak Terkendali
Perajin Tempe Sempat Mogok, Polisi Sidak Gudang Importir Kedelai, Selidiki Dugaan Penimbunan
Bareskrim dan satgas Pangan Polri sidak gudang importir dan distributor kedelai. Inspeksi dadakan atau sidak dilakukan di wilayah Cikupa, Cengkareng,
“Waktu juga ya, yang semula [perjalanan kirim kedelai impor] ditempuh selama tiga minggu menjadi lebih lama yaitu enam hingga sembilan minggu,” jelas Suwandi, Senin (4/1/2021).
Suwandi menjelaskan dampak pandemi menyebabkan pasar global kedelai saat ini mengalami goncangan akibat tingginya ketergantungan impor.
Di luar masalah distribusi, Suwandi menyebut adanya kenaikan harga kedelai impor sebesar 50 persen.
Kenaikan ini disebut dampak dari pandemi di negara asal kedelai seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Rusia hingga Ukraina.
Harga kedelai impor yang selama ini digunakan oleh perajin tahu tempe di negara asal sudah tinggi, sehingga berdampak kepada harga di Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan, faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.
Pada Desember 2020, permintaan kedelai China naik 2 kali lipat yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.
Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah.
Akibatnya terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia. Gakoptindo
menyatakan, akan turut melakukan penyesuaian harga tahu dan tempe dengan harga
kedelai impor.
Meski demikian, Suhanto menekankan, berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai
Indonesia (Akindo), saat ini para importir selalu menyediakan stok kedelai di gudang
importir sekitar 450 ribu ton. “Apabila kebutuhan kedelai untuk para anggota Gakoptindo
sebesar 150-160 ribu ton per bulan, maka stok tersebut seharusnya masih cukup untuk
memenuhi kebutuhan 2-3 bulan mendatang,” ujarnya.
Karena itu, Suhanto berharap importir yang masih memiliki stok kedelai untuk dapat
terus memasok secara berkelanjutan. Khususnya kepada anggota Gakoptindo dengan
tidak menaikkan harga.
Berdasarkan data BPS, saat ini harga rata-rata nasional kedelai pada Desember 2020
sebesar Rp11.298 per kg. Harga ini turun 0,37 persen dibanding November 2020 dan
turun 8,54 persen dibandingkan Desember 2019.(tribun network/igm/rey/dod)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/perajin-tempe-di-jakarta-hentikan-produksi_20210103_200018.jpg)