Breaking News:

Gempa di Sulawesi Barat

Belajar Fenonema dan Dampak Kerusakan Bangunan dari Gempa Sulbar

Fenomena gempa bumi yang terjadi di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan kejadian berulang.

TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Sejumlah warga bergotong royong mengangkat sembako yang di distribusikan oleh TNI Angkatan Laut menggunakan Heli Anti Kapal Selam (AKS) AS565 MBe Panther di Dusun Tauban, Desa Kopeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Selasa (26/1/2021) siang. Desa Kopeang merupakan desa yang terisolir akibat gempa dan longsor Sulbar sehingga hanya bisa diakses menggunakan Heli. Diketahui bantuan sembako yang diangkut oleh Heli buatan Prancis itu sebarat 700 kilogram yang terbang dari KRI dr Soeharsono di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Mamuju. (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Fenomena gempa bumi yang terjadi di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan kejadian berulang.

Menghadapi potensi bahaya gempa, kekuatan bangunan sangat penting untuk dievaluasi dan diperkuat sehingga aman bagi para penghuni yang memanfaatkan bangunan yang masih berdiri pascagempa M6,2.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memiliki catatan gempa bumi berulang dengan periode waktu berbeda, bahkan tercatat dua kali tsunami terjadi yang dipicu oleh fenomena gempa.

Koordinator Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan bahwa Sulawesi memiliki lebih dari 45 segmen sesar aktif. Menurutnya, para ahli kebumian telah mempelajari karakteristik wilayah Sulawesi. 

“Terjadinya gempa merusak di Majene bukan hal aneh. Secara tektonik, wilayah pesisir dan lepas pantai Sulawesi Barat terletak di zona jalur lipatan dan sesar atau fold and thrust belt,” kata Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (2/2/2021).

Secara khusus, wilayah Majene dan Mamuju pernah terdampak gempa secara berulang dengan periode waktu berbeda.

Baca juga: Pulihkan Kondisi Psikis, Tim Dongeng Ceria Ajak Anak Korban Gempa Mamuju Belajar dan Bermain

Daryono mengatakan bahwa fenomena gempa di wilayah itu tercatat sejak 1967. Historis gempa merusak dan pernah terjadi tsunami, antara lain gempa Majene M6,3 pada 1967, kemudian 23 Februari 1969 dengan magnitude 6,9. Dua kejadian ini memicu terjadinya tsunami. 

Total lebih dari 100 warga meninggal dunia pada dua peristiwa tersebut. 

Selanjutnya gempa Mamuju M5,8 pada 6 September 1972, gempa Mamuju M6,7 pada 8 Januari 1984, dan kejadian sebelum kejadian kemarin yaitu pada 7 November 2020, Rangkaian gempa ini bersifat merusak.  

Lalu, gempa Majene yang terjadi pada dua hari berurutan yaitu 14 Januari 2021 dengan M5,9 dan 15 Januari 2021 dengan M6,2. 

Halaman
123
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved