Breaking News:

Pertanyaannya Dianggap Provokasi, JK Minta Pemerintah Jangan Terlalu Baper

JK memastikan, pertanyaan tersebut murni bertanya dan sekadar mengoptimalkan fungsi check and balance di negara demokrasi

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Jusuf Kalla 

Laporan wartawan tribunnews.com, Lusius Genik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta pemerintah untuk tidak mencurigai pertanyaannya terkait cara mengkritik tanpa dipolisikan.

Diketahui, pertanyaan JK itu dianggap sebagian pihak sebagai bentuk dari upaya memprovokasi pemerintah.

Kendati demikian JK memastikan, pertanyaan tersebut murni bertanya dan sekadar mengoptimalkan fungsi check and balance di negara demokrasi.

"(Demokrasi) itu kita jabarkan sebaik-baiknya dengan check and balance, jangan terlalu curiga kepada orang, terutama kepada orang-orang sekitar," ujar JK dalam tayangan Kompas TV bertajuk 'Ketika Jokowi Minta Dikritik,'" Rabu (17/2/2021). 

Baca juga: Jusuf Kalla: Buzzer Berdampak Negatif Bagi Demokrasi Indonesia

Mengenai pertanyaan itu, JK meminta agar pemerintah tidak bawa perasaan alias baper.

"Jangan ada apa-apa curiga, jangan terlalu baper lah, bawa perasaan gitu," ujar JK. 

Seperti contoh ini, saya bertanya dikira provokasi.

Itu kan beda sekali, konteksnya bertanya, itu dianggap provokasi," sambung ketua PMI itu.

JK pun mempertanyakan di mana letak provokasi dari pertanyaan yang dia ajukan.

Halaman
12
Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved