Breaking News:

Mantan Kasatkornas Banser Siap Pimpin NU DKI Jakarta

Fuad Cholil menegaskan jika PCNU Kota Jakarta Pusat menghendaki paradigma atau sistem baru dengan melibatkan suara dari bawah.

istimewa
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama ((PWNU) DKI Jakarta, pada awal April 2021 mendatang, suara dari bawah khususnya Majelis Wakil Cabang (MWC) NU untuk memperbaiki dan memperhatikan keterlibatan MWC NU itu terus berkembang.

Di mana suara MWC NU diharapkan menjadi pertimbangan dan prioritas untuk menentukan keterpilihan Ketua NU (PWNU) DKI Jakarta, dan paradigma ini diharapkan diikuti oleh PCNU seluruh Jakarta.

Demikian aspirasi yang berkembang pada acara silaturahmi yang  difasilitasi PC NU Jakarta Pusat, dan berjalan dalam suasana khas gaya NU, penuh humor dan santai, namun serius.

Baca juga: Hari Ini Ketum PBNU Kiai Said Aqil Luncurkan Buku Allah dan Alam Semesta

Silaturahmi secara khusus memiliki agenda perkenalan,  penyampaian visi misi, program, dan dialog interaktif dengan Balon Ketua NU DKI Jakarta, H. Tatang Hidayat dengan  para MWC se Jakarta Pusat, pada  Sabtu (27/2/2021) malam.

Hadir dalam silaturahmi tersebut antara lain Wakil Ketua PC NU Jakarta Pusat Irfan Mufid, Sekretaris Fuad Cholil, mantan Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta KH. Ma’mum Alayubi, dan seluruh pengurus MWC NU Jakarta Pusat.

Fuad Cholil menegaskan jika PCNU Kota Jakarta Pusat menghendaki paradigma atau sistem baru dengan melibatkan suara dari bawah, yaitu MWC. Yaitu, dengan mengakomodir suara atau aspirasi MWC untuk menentukan dan atau keterpilihan Calon Ketua NU dalam Konferwil NU DKI Jakarta.

"Paradigma baru ini diharapkan diikuti oleh MWC dan PCNU di seluruh Jakarta, karena langsung melibatkan aspirasi umat di bawah, yang selama ini diabaikan,” ujarnya.

Baca juga: Peringatan Harlah Ke-95 NU, Ketum PBNU Sebut Islam Harus Jadi Tandem Nasionalisme

Menurut Fuad, paradigma baru ini sebagai sistem baru untuk memperhatikan aspirasi arus bawah di mana NU sejak lahir hingga saat ini selalu dekat dan menyatu dengan urusan umat, yang paling bawah, seperti di tingkat ranting, kelurahan dan sebagainya.

"Di bawah itulah program keummatan, jam’iyyah NU itu ada. Apalagi saat ini masalah umat makin kompleks, sehingga dibutuhkan figur pemimpin yang mau terjun ke bawah, memperhatikan sekaligus menyelesaikan berbagai masalah umat di bawah. Maka wajar jika Ketua Umum PBNU Prof DR KH. Said Aqil Siradj meminta agar NU tidak dipimpin oleh birokrat atau politisi,” kata Fuad.

Halaman
12
Penulis: chaerul umam
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved