Senin, 4 Mei 2026

Virus Corona

Ini Penjelasan Guru Besar FKUI Soal Mutasi Virus

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan virus itu selalu bermutasi, termasuk virus covid.

Tayang:
Penulis: Larasati Dyah Utami
CDC
Ilustrasi virus corona. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tepat setahun terdeteksinya Covid-19 di Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono, pada Selasa mengumumkan bahwa virus corona varian baru dari Inggris atau B117 sudah masuk ke Indonesia.

Hal tersebut menghebohkan publik, apalagi Wamenkes menyampaikan adanya varian baru virus corona ini membuat pengendalian Covid-19 akan semakin sulit.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama memberikan penjelasan soal mutasi virus.

Saat diwawancara radio nasional, Pakar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi itu mengatakan virus itu selalu bermutasi, termasuk virus covid.

Virus covid sendiri sudah bermutasi dengan mutasi D614G yang pertama kali dideteksi di Indonesia pada awal April 2020 di Surabaya, Jawa Timur.

“D614G sudah ada di dunia bulan Februari 2020 dan sudah ada di Indonesia,” kata Tjandra diwawancaa Radio Trijaya, Selasa (2/3/2021).

Baca juga: Penjelasan IDI soal Kasus Mutasi Baru Corona dari Inggris B117: Bahayanya Lebih Mudah Menyebar

Prof Tjandra mengatakan walaupun virus D614G juga menular namun tidak terlalu berbahaya seperti virus selanjutnya, yakni virus B117 yang terdeteksi di Inggris pada bulan Desember 2020 lalu.

Ia tidak menyangkal kalau virus B117 perlu mendapat perhatian lebih, karena Inggris sendiri melaporkan strain baru itu dalam bentuk regulasi internasional.

“Regulasi itu digunakan jika ada sesuatu yang mungkin mengancam kesehatan masyarakat dunia. Maka mereka melaporkan itu di Desember 2020,” kata Tjandra.

Penularan virus B117 dijelaskannya sudah ada data ilmiah yang menyatakan kemungkinan penularannya bisa naik, bisa 30 hingga 50 persen.

Namun sejauh ini belum ada bukti nyata bahwa virus itu akan berdampak berat bagi orang yang tertular atau menyebabkan kematian.

“Apakah tambah berat? Sejauh ini belum ada bukti nyata bahwa mutasi itu tambah berat. Tapi yang tertular makin banyak, dan yang tertular orang tua atau komorbid tentu saja situasi jadi makin berat. Tapi mutasinya sendiri belum terbukti membuat makin berat atau menyebabkan kematian,” ujarnya.

Baca juga: Setahun Pandemi Covid-19, Wamenkes Umumkan Mutasi Virus Corona dari Inggris Masuk ke Indonesia

Tak berselang lama, kembali muncul strain virus yang berasal dari Afrika Selatan, yang pada akhirnya membuat orang sadar hal-hal yang berkaitan dengan angka pengobatan, vaksinasi dan juga peningkatan penularan.

Tjandra menjelaskan setelah itu berbagai jenis mutasi terdeteksi seperti mutasi virus yang ada di New York, B1526.

“Mutasi ini akan bergerak terus, negara perlu melakukan surveilans genomic. Jadi bukan hanya memeriksa PCR positif atau tidak positif, tapi juga dilihat di dalam virus itu ada apanya. Dengan melihat itu maka Wamenkes mengeluarkan statement bahwa dia menemukan virus B117 itu,” kata Tjandra.

Baca juga: Terjadi Kenaikan Kasus Covid-19 di Dunia, WHO: Terlalu Dini Hanya Andalkan Vaksin   

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved