Breaking News:

Gejolak di Partai Demokrat

Hujan Deras Angin Kencang dan Petir saat Konpres Demokrat Versi KLB di Bukit Hambalang

Lokasi konferensi pers tersebut berdekatan dengan proyek Hambalang Sport Center yang mangkrak sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

tribunnews.com, Lusius Genik
Hujan deras disertai angin kencang mewarnai konferensi pers Partai Demokrat versi KLB Deli Serdang di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang menggelar konferensi pers di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/3/2021) siang. 

Lokasi konferensi pers tersebut berdekatan dengan proyek Hambalang Sport Center yang mangkrak sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Para jajaran DPP Demokrat versi KLB seperti Max Sopacua, Rahmad, Tri Yulianto, Hengky Luntungan, Dr. Saiful Huda, Darmizal, dan Razman Nasution menghadiri konferensi pers tersebut. 

Pantauan tribunnews.com, hujan deras telah mengguyur lokasi konferensi pers Partai Demokrat versi KLB Deli Serdang sejak sekira pukul 13.00 WIB. 

Hujan deras yang terjadi disertai angin kencang, yang sesekali menerjang tenda tempat para jajaran DPP Demokrat kubu KSP Moeldoko menggelar konferensi pers.

Dalam beberapa kesempatan, bahkan gemuruh petir terdengar lantang dari langit yang mendung.

Namun demikian konferensi pers di Hambalang tetap berlangsung.

Sekjen Partai Demokrat versi KLB Darmizal mengawali konferensi pers dengan menyinggung adanya seseorang yang berada di puncak tapi tidak pernah mendaki. 

"Ada seseorang yang berada di puncak tapi tidak pernah mendaki, jadi dia lupa cara untuk turun," ujar Darminzal. 

Baca juga: Moeldoko dan Nazaruddin Tak Hadiri Konpers Demokrat versi KLB di Hambalang

Darmizal juga beberapa kali menyebut nama Pepo, panggilan SBY, yang berusaha mengatasi berbagai kisruh di tubuh Partai Demokrat saat ini. 

"Peponya terpaksa turun ke bawah, karena hanya Pepo yang tahu jalan turun," ujar Darmizal. 

Kendati demikian Darmizal tidak mengungkapkan makna di balik ucapannya soal orang yang berada di puncak tapi tidak pernah mendaki. 

Dia justru mengutarakan pentingnya menegakkan hukum atas ketidakadilan yang terjadi dalam kasus korupsi Hambalang.

"Bahwa hukum harus menjadi panglima tertinggi di negeri hukum Republik Indonesia. Kemudian kebenaran harus tegak walau langit akan runtuh. Itu pesan moralnya. Kami ingin menegakkan kebenaran," ujar dia.

Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved