Apa Perbedaan Siklon Tropis Seroja dengan Siklon Sebelumnya yang Melanda Indonesia? Ini Kata BMKG

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati menyebut siklon tropis Seroja ini tidak wajar.

YouTube Sekretariat Presiden RI
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi (BMKG), Dwikorita Karnawati, menampilkan animasi gambaran siklon tropis Seroja yang terjadi di NTT dalam rapat koordinasi, Selasa (6/4/2021). Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati menyebut siklon tropis Seroja ini tidak wajar. 

TRIBUNNEWS.COM - Siklon tropis Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur pada Senin (5/4/2021) memiliki perbedaan dengan siklon sebelumnya yang pernah melanda wilayah Indonesia.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bahkan menyebut jika siklon tropis Seroja ini tidak wajar.

Dwikorita menyebut siklon tropis Seroja ini merupakan siklon ke-10 yang terdeteksi semenjak tahun 2008.

Ia menyebut tak wajar karena Siklon Tropis Seroja ini masuk ke wilayah daratan, sehingga memberikan efek dampak yang luar biasa.

Padahal, lazimnya siklon tropis terjadi di wilayah perairan laut dan tak sampai ke daratan.

"Padahal pada umumnya siklon yang terjadi tidak masuk ke daratan," kata Kepala BMKG saat konferensi pers, Selasa (6/4/2021) pagi seperti disiarkan YouTube Sekretariat Presiden.

Ia memberikan contoh, Siklon Tropis yang pernah melanda wilayah Indonesia sebelumnya yakni siklon Cempaka tahun 2017 lalu.

Baca juga: BMKG Sebut Prediksi Badai Siklon Tropis Seroja Sudah Disampaikan ke Daerah

Baca juga: BMKG Buat Grup WA Pengungsi Korban Banjir NTT, Infokan Perkembangan Cuaca dan Peringatan Dini

Pada Siklon Cempaka, pusat siklon berada di wilayah luat dan yang masuk ke daratan hanyalah bagian ekor siklon saja.

Meski begitu, efek yang terjadi kala itu juga cukup menimbulkan cuaca ekstrem di wilayah selatan jawa seperti Pacitan, Gunung Kidul dan Bantul.

Dwikorita lantas menunjukkan citra satelit dari siklon tropis Cempaka yang sempat menerjang wilayah Jawa Tengah dan DIY bagian selatan pada November 2017 lalu.

"Dan yang masuk ke darat hanya ekor yang warna biru-hijau. Begitu masuk ke darat, sebelumnya langsung pecah terurai. Namun ini (siklon Seroja) mulai berkembang saja sudah kena pulau. Dan itulah yang membuat lebih dahsyat," kata Dwikorita.

Siklon Tropis Seroja dan Cempaka
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati menyebut siklon tropis Seroja ini tidak wajar.

Sedangkan siklon Seroja yang terjadi di NTT, pusaran terbesar terjadi di daratan.

Bahkan di awal pembentukannya, kecepatan pusaran siklon ini mencapai 85 km per jam.

"Yang saat ini, mulai berkembang saja sudah kena pulau, itu yang membuat lebih dahsyat, bayangkan saat terbentuk kecepatan pusarannya 85 km per jam," kata dia.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved