Breaking News:

Cuaca Ekstrem di Indonesia Timur

BNPB: 12.334 Warga NTT Masih Mengungsi Akibat Banjir Bandang dan Longsor

(BNPB) melaporkan lebih dari 12.000 warga di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengungsi akibat terdampak bencana yang picu oleh siklon tropis S

BNPB
Suasana dapur umum yang melayani kebutuhan pangan para pengungsi terdampak banjir bandang di Lewoleba Lembata, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan lebih dari 12.000 warga di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengungsi akibat terdampak bencana yang picu oleh siklon tropis Seroja.

Para warga masih berada di sejumlah titik pengungsian, sedangkan pemerintah daerah terus melayani warga terdampak pascabencana.

Data BNPB per Rabu (14/4), pukul 20.00 WIB, mencatat 12.334 penyintas. Dari jumlah tersebut, jumlah warga yang mengungsi terbesar di Kabupaten Rote Ndao sejumlah 5.556 warga.

"Sedangkan di Kabupaten Flores Timur 2.118 warga, Kupang 1.698, Lembata 1.146, Timur Tengah Selatan 690, Belu 644, Sumba Timur 510, Kota Kupang 265, Sabu Raijua 59 dan Ende 20," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati melalui keterangan tertulis, Kamis (15/4/2021).

Beberapa wilayah kabupaten yang terdampak tetapi tidak teridentifikasi adanya pengungsian berada di Malaka, Ngada, Sumba Barat, Sumba Tengah, Alor, Sikka, Manggarai, Manggarai Timur dan Nagekeo. 

Sementara itu, total dampak di Provinsi NTT mencatat korban meninggal dunia 181 orang dan hilang 47, sedangkan warga terdampak mencapai 122.232 KK (428.986 orang). Saat peristiwa terjadi, total korban luka mencapai 258 orang. 

Baca juga: Tiba di Sabu Raijua, KRI Ahmad Yani 351 Distribusikan Bantuan Korban Banjir dan Tanah Longsor NTT

Di samping korban jiwa, bencana yang dipicu siklon tropis Seroja mengkibatkan lebih dari 66.000 rumah rusak dengan tingkat ringan hingga berat.

"BNPB mencatat total rumah rusak berat 17.124 unit, rusak sedang 13.652 dan rusak ringan 35.733," ungkap Raditya.

Merespons kondisi yang masih darurat, pemerintah daerah dan berbagai pihak masih melakukan upaya penanganan darurat, seperti pelayanan medis warga, penyelenggaraan dapur umum, pendistribusian logistik, pembersihan lingkungan maupun pembukaan daerah terisolir. 
 

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved