Breaking News:

OTT Menteri KKP

Bacakan Pledoi, Edhy Prabowo Cerita Lika-liku Hidupnya, Sebut Prabowo Subianto sebagai Penyelamat

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo membacakan nota pembelaan atau pleidoi pada Jumat (9/7/2021) malam, di Pengadilan Tipikor.

Tribunnews/Irwan Rismawan
Terdakwa kasus suap izin ekspor benih lobster tahun 2020, Edhy Prabowo menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (28/4/2021). Agenda sidang dengan terdakwa mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut adalah mendengarkan keterangan saksi. Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo membacakan nota pembelaan atau pleidoi pada Jumat (9/7/2021) malam, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Dalam pleidoinya, eks politikus Partai Gerindra itu mengisahkan perjalanan hidupnya. Termasuk bagaimana ia bertemu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

"Sebelum saya menyampaikan nota pembelaan lebih jauh, izinkan saya bercerita singkat tentang perjalanan hidup saya sebelum akhirnya saya berada di sini (kursi pesakitan)," ucap Edhy.

Edhy berkata bahwa dirinya merupakan orang kampung yang lahir dan tumbuh di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Ia dibesarkan dari keluarga yang sangat sederhana. Bersama empat orang kakak dan empat orang adik.

"Saya menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan," kata terdakwa perkara suap ekspor benih bening lobster atau benur itu.

Baca juga: Berumur 49 Tahun dan Punya 3 Anak, Edhy Prabowo Merasa Tuntutan Jaksa KPK Sangat Berat

Meski demikian, Edhy kecil memiliki cita-cita yang cukup besar.

Ia ingin berbakti dan mengabdi kepada Tanah Air, tepatnya menjadi tentara.

Karena itu, pada saat lulus SMA, Edhy mendaftarkan diri menjadi salah satu taruna di Akademi Militer Magelang. 

Edhy Prabowo
Edhy Prabowo (Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S)

"Alhamdulillah, Tuhan membuka jalan. Saya terpilih menjadi satu dari ribuan orang yang mendaftar."

"Masih teringat jelas bagaimana rasa haru dan bangga orang tua ketika melihat anaknya bisa melanjutkan pendidikan di Akademi Militer Magelang. Bukan hanya keluarga, rasa bangga itu juga terlihat dari mata kerabat hingga para warga di desa," tuturnya.

Namun, lanjutnya, mimpi terkadang tidak sesuai dengan harapan.

Saat tingkat dua, Edhy bersama dengan beberapa sahabat tidak bisa melanjutkan pendidikan. Mimpi seketika sirna, air mata haru seketika berubah menjadi duka. 

Edhy harus dikembalikan ke kampung halaman. Harapan menjadi komandan berubah menjadi pengangguran.

Baca juga: ICW: Tuntutan KPK ke Edhy Prabowo Hina Keadilan, Seperti Tuntutan Kepala Desa

Saat itu ia berada di titik kehidupan paling rendah. Tapi Edhy tak mau menyerah. 

"Saya harus membalas kegagalan ini dengan keberhasilan. Hingga akhirnya saya memutuskan merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. Kerja apa saja, yang penting halal dan bisa menabung untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tertunda. Hingga akhirnya, saya dipertemukan dengan figur yang luar biasa," kata dia.

Sosok yang dimaksud Edhy ialah Prabowo Subianto. Edhy menyebut ketua umum Partai Gerindra itu berhasil memompa kembali semangatnya.

Prabowo mengajarkan Edhy banyak hal dalam kehidupan. Prabowo, katanya, seketika menggantikan peran ayah setelah ayah kandung Edhy pergi menghadap Sang Pencipta. 

"Sosok itu adalah Bapak Prabowo Subianto. Bila beberapa waktu lalu sempat ada berita bahwa 'Edhy adalah orang yang diambil Prabowo dari comberan', maka saya katakan bahwa itu benar," ujarnya. 

"Beliaulah yang menyelamatkan saya di saat kondisi sedang terpuruk dan di saat harga diri sedang terdegradasi. Beliaulah yang mendidik saya. Saya bersyukur kepada Tuhan telah mempertemukan saya dengan seseorang yang sangat luar biasa," imbuh Edhy.

Melalui didikan Prabowo, Edhy mengaku bersyukur mendapat banyak kesempatan menjadi karyawan di perusahaan, pengurus di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), mendirikan dan menjadi kader Partai Gerindra, menjadi anggota DPR 3 periode, hingga dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Dalam kasusnya, Edhy didakwa bersama-sama Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy Prabowo), Ainul Faqih (sekretaris pribadi istri Edhy, Iis Rosita Dewi) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo).

Mereka didakwa menerima suap Rp25,75 miliar dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) terkait pemberian izin budidaya dan ekspor.

Salah satu pemberinya adalah Suharjito selaku Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP). Suharjito menyuap Edhy Prabowo sebesar Rp2,146 miliar.

Suharjito sudah dinyatakan bersalah oleh hakim. Ia dijatuhi hukuman 2 tahun penjara ditambah denda Rp250 juta subsider 3 bulan. Kini Suharjito menjalani masa pidana di Lapas Cibinong.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved