Riset Terapan Vokasi Harus Bangun Kemitraan dengan Industri
Untuk mewujudkan lulusan vokasi yang andal diperlukan kesamaan visi dari semua pihak, baik pemerintah, industri, maupun stakeholder terkait.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) baru saja meluncurkan Program Riset Keilmuan Terapan Dalam Negeri Dosen Perguruan Tinggi Vokasi.
Menurut tim Program Riset Keilmuan Terapan Adil B. Ahza, riset ini harus membangun kemitraan yang harmonis antara pemerintah, industri, periset, dan masyarakat luas.
"Harus ada kemitraan yang selaras. Masing-masing pihak tidak bisa bekerja sendiri," kata Adil melalui keterangan tertulis, Rabu (4/8/2021).
Baca juga: Dosen Vokasi dapat Bantuan Program Beasiswa Riset Terapan
Dirinya berharap tim periset bersama mitra bekerja sama menyelesaikan berbagai permasalahan yang riil berbasis pemecahan masalah yang bersinergi.
Menurutnya riset keperluan industri memiliki sifat mengejar keuntungan atau profit oriented.
Sedangkan kebutuhan masyarakat memiliki sifat yang lebih social enterprises.
Untuk itu upaya menyelaraskan dua sifat tersebut harus dilakukan secara tersruktur sehingga dapat menangkap maksud dan tujuan masing-masing.
“Dan bagi politeknik Ini adalah hajatan institusi. Satu organsiasi harus memberikan impact. Ini harus cross discipline, jangan hanya satu orang, tetapi institutional driven," tutur Adil.
Baca juga: Kerjasama Pendidikan Vokasi dengan Industri Dibutuhkan untuk Tekan Angka Pengangguran
Menurutnya, harus ditempuh penguatan riset terapan dan konsep link and match kepada pelaku industri.
Program ini berbasis pada demand driven, yaitu riset yang digerakkan berdasarkan permintaan dan kebutuhan guna menyelesaikan masalah nyata di dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pasar, maupun masyarakat.
Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Berry Juliandi menjelaskan riset memiliki kesinambungan antara riset dasar dan terapan.
Untuk mewujudkan lulusan vokasi yang andal, maka diperlukan kesamaan visi dari semua pihak, baik pemerintah, industri, maupun stakeholder terkait pendidikan vokasi.
"Industri dan pendidikan vokasi perlu memiliki ruang bersama untuk lebih dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Melalui komunikasi yang baik, maka trust (kepercayaan) akan muncul," kata Berry.
Program Riset Keilmuan Terapan Dalam Negeri-Dosen Perguruan Tinggi Vokasi akan memfasilitasi 51 proposal yang lolos serangkaian proses seleksi dengan masing-masing pendanaan yang dapat diusulkan senilai Rp500 juta.
Program ini memiliki dua skema, pertama adalah skema A, yaitu pengembangan riset terapan dari permasalahan nyata di DUDI dan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-riset.jpg)