Minggu, 31 Mei 2026

Survei LSI: Ada Semacam Sikap Negatif Cukup Tinggi Terhadap Investasi Asing Dalam Pengelolaan SDA

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menyebutnya ada semacam nasionalisme terkait dengan pengelolaan sumber daya alam.

Tayang:
Penulis: Gita Irawan
tangkap layar
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan hasil survei persepsi publik yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan ada semacam sikap negatif yang cukup tinggi terhadap investasi asing dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA).

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menyebutnya ada semacam nasionalisme terkait dengan pengelolaan sumber daya alam.

Dalam survei, kata dia, ditanyakan apakah masyarakat setuju atau tidak setuju dengan pembatasan investasi atau pemodal asing dalam sektor sumber daya alam.

Hal tersebut disampaikannya dalam Rilis Temuan Survei Nasional: Persepsi Publik Atas Pengelolaan dan Potensi Korupsi Sektor Sumber Daya Alam di kanal Youtube Lembaga Survei Indonesia pada Minggu (8/8/2021).

"Semuanya, mayoritas yang besar sekali, mayoritas mutlak ini, menyatakan bahwa mereka setuju dengan upaya, pembatasan terhadap investasi asing itu baik di bidang pertambangan, penangkapan ikan dan sumber daya laut, perkebunan, penangkapan dan ekspor margasatwa, serta perdagangan dan impor sampah. Jadi ada semacam sikap negatif yang cukup tinggi terhadap investasi asing di sini," kata dia.

Baca juga: Survei LSI: Mayoritas Publik Anggap BUMN dan Koperasi Paling Pantas Kelola Sumber Daya Alam

Kemudian ditanyakan juga dalam survei mengapa masyarakat cenderung lebih pro untuk pembatasan modal asing atau perusahaan asing atau cenderung negatif kepada peran asing.

Alasan pertama, kata dia, adalah perusahaan asing bekerja untuk kepentingan mereka sendiri, tidak untuk kebaikan rakyat Indonesia.

Alasan kedua, lanjut dia, Indonesia bisa lebih mandiri kalau mengelola sumber daya alamnya sendiri.

Kemudian alasan ketiga, pendapatan negara akan lebih besar untuk Indonesia jika dikelola oleh orang Indonesia.

Baca juga: Survei: Publik Bersikap Positif Terhadap Pemerintah Dalam Menyeimbangkan Pembangunan dan Lingkungan

Ia mengatakan dari alasan-alasan tersebut lebih terkait dengan persoalan ekonomi dan politik yang tercermin dari kata kemandirian.

"Sedangkan alasan yang lain seperti kerusakan lingkungan atau persoalan korupsi bukan alasan utama masyarakat Indonesia untuk anti terhadap pemodal asing atau investasi asing. Ya ada semacam nasionalisme SDA di situ," kata dia.

Survei dilakukan menggunakan telepon kepada responden karena dalam situasi pembatasan sosial yang luas diterapkan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sulit diketahui secara cepat dinamika persepsi publik atas isu-isu mutakhir dengan mengandalkan survei tatap muka langsung dengan responden. 

Sampel basis nasional yang disurvei sebanyak 1.200 responden dan dilakukan tambahan sample di empat provinsi yakni Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara masing-masing menjadi 400 responden. 

Responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Juni 2021.

Sebanyak 296.982 responden yang terdistribusi secara acak di seluruh Indonesia pernah diwawancarai secara tatap muka langsung dalam rentang 3 tahun terakhir. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved