Survei LSI: Masyarakat Menunjukkan Keprihatinan Paling Tinggi pada Isu Korupsi dan Ekonomi
Hasil survei LSI, masyarakat menunjukkan keprihatinan paling tinggi pada isu korupsi dan ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan hasil survei persepsi publik yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), masyarakat menunjukkan keprihatinan paling tinggi pada isu korupsi dan ekonomi.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengatakan dalam survei tersebut pihaknya mengajukan enam masalah bangsa yang saat ini dihadapi yaitu soal korupsi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, kerusakan lingkungan, demokrasi, dan perubahan iklim.
Hal tersebut disampaikannya saat Rilis Temuan Survei Nasional: Persepsi Publik Atas Pengelolaan dan Potensi Korupsi Sektor Sumber Daya Alam di kanal Youtube Lembaga Survei Indonesia pada Minggu (8/8/2021).
"Kalau kita lihat di sini, masyarakat kita secara umum memang secara umum menunjukkan keprihatinan yang paling tinggi terhadap isu korupsi dan isu ekonomi terutama dalam hal ini adalah lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi," kata dia.
Baca juga: Kapolri: Perekonomian DIY Tumbuh 11,81 Persen Selama Pandemi Covid-19
Isu kerusakan lingkungan, lanjutnya, juga menjadi keprihatinan publik namun masih berada di bawah korupsi, lapangan kerja, dan ekonomi.
Sedangkan isu perubahan iklim, kata dia, di antara enam isu tersebut berada pada posisi paling bawah.
Hal tersebut, kata dia, bisa dilihat bagaimana prioritas masyarakat melihat persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dari sudut pandang enam isu tersebut.
"Jadi isu yang paling pokok bagi masyarakat adalah isu-isu korupsi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi dan kemudian juga persoalan lingkungan," kata dia.
Baca juga: Himbara Sebut Pentingnya Sinergi Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi
Survei dilakukan menggunakan telepon kepada responden karena dalam situasi pembatasan sosial yang luas diterapkan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sulit diketahui secara cepat dinamika persepsi publik atas isu-isu mutakhir dengan mengandalkan survei tatap muka langsung dengan responden.
Sampel basis nasional yang disurvei sebanyak 1.200 responden dan dilakukan tambahan sample di empat provinsi yakni Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara masing-masing menjadi 400 responden.
Responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Juni 2021.
Sebanyak 296.982 responden yang terdistribusi secara acak di seluruh Indonesia pernah diwawancarai secara tatap muka langsung dalam rentang 3 tahun terakhir.
Secara rata-rata, sekitar 71% di antaranya memiliki nomor telepon.
Baca juga: Berkas Penyidikan Rampung, Anak Aa Umbara Segera Jalani Sidang Korupsi Bansos Covid-19 Bandung Barat
Jumlah sampel yang dipilih secara acak untuk ditelpon sebanyak 16.782 data, dan yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei yaitu sebanyak 2.580 responden.
Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel basis sebanyak 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error atau MoE) ±2.88% pada tingkat kepercayaan 95%.
Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.
Tambahan sample di empat provinsi dengan jumlah sampel masing-masing 400 responden memiliki toleransi kesalahan ±5% pada tingkat kepercayaan 95%.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/temuan-survei-lsi.jpg)