Breaking News:

Virus Corona

Bukan Ajakan Makar, PMII Tegaskan Sikap Kritis ke Jokowi Adalah Aspirasi Penyelesaian Pandemi

sikap kritis dan pernyataan yang menyarankan Presiden Joko Widodo untuk mundur karena dianggap gagal menangani pandemi Covid-19, bukan sebagai ajakan

Tangkapan Layar YouTube Kompas TV
Presiden Jokowi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pengurus Besar (PB) Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Muhammad Rohim menegaskan sikap kritis dan pernyataan yang menyarankan Presiden Joko Widodo untuk mundur karena dianggap gagal menangani pandemi Covid-19, bukan sebagai ajakan bertindak makar.

Ia menyebut pernyataan kritis itu adalah bentuk aspirasi mahasiswa untuk mendorong penanganan pandemi Jokowi - Ma'ruf lebih baik lagi.

"Statement dari PB PMII bahwa Presiden Jokowi disarankan untuk mundur karena dianggap gagal dalam menangani pandemi Covid-19 di Indonesia, telah banyak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, maupun kalangan mahasiswa sendiri. Untuk itu ditegaskan, bahwa statement tersebut bukan ajakan makar tetapi aspirasi kritis Mahasiswa untuk mendukung penanganan pandemi Covid-19," kata Rohim kepada wartawan, Sabtu (21/8/2021).

Menurutnya sikap kritis dari PMII sebagai organisasi mahasiswa dinilai dalam batas wajar. Sehingga wajar jika kritis tersebut disampaikan untuk tujuan perubahan.

Baca juga: 14 Pernyataan Sikap Kelompok Cipayung Plus: Desak Jokowi Evaluasi Kebijakan Penanganan Pandemi

Rohim menyampaikan pihaknya juga siap membantu pemerintah secara gotong royong mengentaskan pandemi yang hingga hari ini belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Oleh karena itu, ia meminta kritis tersebut tak dimaknai sebagai ajakan makar

"Dengan statemen itu kami justru ingin sampaikan bahwa kami siap membantu pemerintah untuk gotong royong bahu membahu mengentaskan Pandemi Covid-19, yang belum ada tanda-tanda akan berakhir. Nggak ada itu ajakan untuk makar ke Bapak Presiden Jokowi," jelas dia.

PB PMII juga memberi 3 catatan yang bisa dimaknai sebagai masukan bagi pemerintah. Antara lain, komitmen siap membantu pemerintah dengan menyelenggarakan vaksinasi, serta penyaluran bantuan sembako bagi rakyat.

Kemudian, soal tenaga kesehatan yang jumlahnya sedikit dan banyak berguguran karena terpapar, pemerintah diharapakan menyediakan beasiswa bagi masyarakat menengah bawah di bidang kedokteran dan keperawatan. Sehingga tenaga kesehatan di masa mendatang bisa kian banyak.

"Ketiga, harga test PCR yang beragam, menurut kami PB PMII harga itu masih tinggi bagi masyarakat, sehingga kami PB PMII mendorong Pemerintah untuk terus mengupayakan harga test PCR terjangkau untuk semua kalangan masyarakat," ucapnya.
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved