Breaking News:

Konflik di Afghanistan

Densus 88 Waspadai Kemungkinan Adanya WNI yang Pergi ke Afghanistan Jadi Kombatan

Densus 88 Antiteror Polri mewaspadai adanya gelombang Warga Negara Indonesia (WNI) pergi ke Afghanistan menjadi pejuang alias kombatan.

AFP
Warga Afghanistan menunggu untuk menaiki pesawat militer AS untuk meninggalkan Afghanistan, di bandara militer di Kabul pada Kamis (19/8/2021)setelah Taliban mengambil alih Afghanistan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Densus 88 Antiteror Polri mewaspadai adanya gelombang kepergian Warga Negara Indonesia (WNI) ke Afghanistan menjadi pejuang alias kombatan. Hal tersebut menyusul kemenangan Taliban menguasai Kabul.

Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar mencatatkan setidaknya pernah ada 10 gelombang WNI yang sengaja pergi ke Afghanistan menjadi kombatan. Mayoritasnya pulang membawa paham radikalisme.

"Kami dari pihak Densus mengingatkan bahwa potensi ancaman para returnis atau orang Indonesia yang akan berangkat ke sana sebagai foreign fighter itu sudah pernah ada. Ini bukan prediksi ini sejarah," kata Aswin dalam diskusi daring, Senin (30/8/2021).

Aswin menuturkan pergesekan yang terjadi di Afghanistan beberapa hari terakhir memang telah memantik WNI untuk menjadi kombatan di Afghanistan. Contohnya, ketika ada bom di bandara Kabul.

"Kemudian ada aliansi utara yang juga yang sampai saat ini masih mengontrol beberapa wilayah lainnya yang berseberangan dengan pihak Taliban. Ini akan menghasilkan medan pertempuran baru yang mengundang orang. Kita harus waspada teman kita, keluarga kita, tetangga kita atau siapapun ini bisa jadi ada yang termotivasi berangkat," jelasnya.

Baca juga: Densus 88 Waspadai Pergerakan WNI Eks Kombatan Taliban yang Pulang ke Indonesia

Dijelaskan Aswin, konflik yang terjadi tersebut dikhawatirkan dapat mendorong kembali gelombang pergerakan WNI ke Afghanistan.

"Ketika ada konflik, orang berbondong-bondong beberapa bergelombang gelombang berangkat ini sudah pernah terjadi. Jangan sampai terulang lagi di zaman ini gitu ya. Biasalah kita kan selalu dibangkitkan motivasinya melalui bujukan rayuan yang hampir tidak bisa kita tolak itu ya," ungkapnya.

Ia menuturkan mayoritas WNI yang dengan sengaja menjadi kombatan mayoritasnya berdalih untuk membela penindasan dan kemerdekaan sesama umat muslim. Padahal, hal ini merupakan propaganda yang biasa dilakukan teroris.

"Seperti tadi di mana kaum muslim tertindas satu, seluruh umat muslim harus bersatu padu untuk membela membebaskan saudaranya. Nah ini berangkatlah. Atau banyak lagi jargon, kampanye ataupun propaganda propaganda teroris seperti itu," jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved