Selasa, 2 Juni 2026

Merawat Api Kebangsaan, MAARIF Institute Hidupkan Pemikiran Buya Syafii Lewat Pentas Kaba

Acara memadukan pembacaan kuliah umum Buya dan pertunjukan teatrikal multi-media untuk merajut kembali tenun sosial bangsa.

Tayang:
Penulis: Wahyu Aji
HO/IST
Pentas budaya kolaboratif bertajuk "Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau", di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, ISI Padang Panjang, Minggu (31/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • MAARIF Institute menggelar rangkaian "Bulan Buya" (Mei–Juni 2026) di Yogyakarta, Padang Panjang, dan Jakarta untuk merawat gagasan luhur Ahmad Syafii Maarif.
  • Kolaborasi dengan Komunitas Talago Buni dan ISI Padang Panjang menghadirkan pentas gratis "Kaba Kebangsaan" di Gedung Hoerijah Adam pada 31 Mei 2026.
  • Acara memadukan pembacaan kuliah umum Buya dan pertunjukan teatrikal multi-media untuk merajut kembali tenun sosial bangsa.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memperingati hari lahir sekaligus empat tahun berpulangnya Sang Guru Bangsa, MAARIF Institute kembali menggelar selebrasi kultural "Bulan Buya" sepanjang Mei hingga Juni 2026. 

Mengusung konsep estafet budaya lintas wilayah Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Jakarta, agenda ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menelusuri keteladanan luhur Ahmad Syafii Maarif di tengah dinamika zaman.

Baca juga: Purnomo Yusgiantoro Ajak Alumni Lemhannas Solid Hadapi Tantangan Kebangsaan

Setelah sukses membuka simpul pertama lewat pameran seni rupa "Suluh Bangsa" di Yogyakarta pekan lalu, MAARIF Institute melanjutkan estafet ini ke Ranah Minang. 

Berkolaborasi dengan Komunitas Talago Buni dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, sebuah pentas budaya kolaboratif bertajuk "Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau" sukses memukau publik pada Minggu, 31 Mei 2026, di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, ISI Padang Panjang.

"Dipilihnya Ranah Minang sebagai simpul kedua dari rangkaian tiga kota ini membawa pesan mendalam. Agenda pentas budaya yang digelar secara gratis dan terbuka untuk umum ini bukan sekadar sebuah tontonan semata, melainkan sebuah undangan terbuka untuk merenung bersama di tengah riuh dan dinamisnya tantangan zaman,” kata Manajer Pelaksana, Akbar Nicholas kepada wartawan, Senin (1/6/2026).

Melalui medium seni bertutur tradisional yang dikemas modern, ingatan kolektif akan ketegasan moral Buya Syafii dihidupkan kembali. Pertunjukan ini mengajak masyarakat untuk 'pulang' pada nilai-nilai keadaban luhur yang konsisten beliau rawat di bumi Nusantara.

Sementara itu, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, DEA, Ph.D., menegaskan bahwa merawat gagasan Buya Syafii sangat krusial di tengah kehidupan bangsa yang majemuk. 

Salah satu momen paling reflektif malam itu adalah sesi membaca ulang Kuliah Umum Buya Syafii Maarif yang pernah disampaikan langsung di kampus ISI Padang Panjang pada 16 Maret 2015 silam.

Disuarakan kembali oleh Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., MA., pembacaan ulang ini menyentuh sisi emosional dan intelektual penonton, memanggil kembali kejernihan berpikir sang Guru Bangsa untuk diserap oleh generasi hari ini.

Panggung utama sepenuhnya menjadi milik Pagelaran Bertutur tentang Guru Bangsa. 

Baca juga: Partai Berkarya Serukan Kader Tetap Solid, Tak Terprovokasi Narasi Perkeruh Suasana Kebangsaan

Di bawah kawalan Direktur Artistik Edy Utama, narasi kebangsaan dialunkan secara apik melalui tangan dingin duet Music Director Muhammad Halim dan Susandra Jaya, serta dituturkan secara teatrikal oleh narator Andria C. Tamsin dan Dede Primayoza.

Jiwa pertunjukan semakin hidup lewat harmoni musik dan vokal magis dari seniman Komunitas Talago Buni—Emri, Hasanawi, Febrianti, dan Anna Amelia Putri—yang dibalut estetika visual multi-media oleh videografer Harista Wijaya.

Menurut Edy Utama, pendekatan multi-media sengaja dipilih agar pemikiran dan gagasan besar Buya Syafii dapat menembus batas generasi dan dipahami secara lebih luas oleh masyarakat luas.

Melalui Pentas Budaya "Kaba Kebangsaan" ini, MAARIF Institute bersama para seniman berharap dapat merajut kembali tenun sosial dan kemanusiaan bangsa. 

Setelah Sumatra Barat, seluruh rangkaian perayaan Bulan Buya ini akan bergerak menuju puncaknya yang direncanakan bertempat di Jakarta pada pertengahan Juni mendatang, memastikan api nurani kebangsaan yang dinyalakan Buya Syafii tetap menyala terang.

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved