Jumat, 29 Agustus 2025

Dosen Unsyiah Saiful Mahdi Dipenjara, Istrinya Curhat, Kepikiran Mertua yang Menderita Demensia

Dr Saiful Mahdi menjalani eksekusi penjara setelah pengajuan kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA) dengan menguatkan putusan PN Banda Aceh.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Willem Jonata
tangkapan layar video Youtube Changeorg Indonesia
Dian Rubianty mengantar suaminya, dosen Universitas Syiah Kuala Aceh Dr Saiful Mahdi, ke Kejaksaan Negeri Banda Aceh untuk menjalani eksekusi penahanan tiga bulan penjara hari ini Kamis (2/9/2021). 

Hal itu diungkapkannya dalam Konpres: Amnesti Untuk Saiful Mahdi di kanal Youtube Changeorg Indonesia pada Kamis (2/9/2021).

"Selama dua tahun ini saya dan anak-anak sempat berharap. Terutama ketika pemerintah menandatangani SKB (UU ITE). Kami sangat berharap Hakim Agung melihat SKB ini. Karena salah satu butir SKB menyatakan bahwa percakapan di WA grup tidak boleh dipidana, bahkan hakim di pengadilan negeri tidak mendengar pendapat Prof Hendri Subianto, Ketua Panja Kemenkominfo. Bahkan kesaksiannya diabaikan," kata Dian.

Kemudian ketika kasasinya ditolak, kata dia, ia dan anak-anaknya menyadari bahwa hari-hari gelap akan segera datang dalam kehidupan mereka yakni hari ini. 

Sambil sesekali menahan tangis dan dengan suara bergetar.

Dian mengungkapkan betapa pentingnya Saiful tidak hanya bagi ia dan anak-anaknya. Tapi juga ibu mertuanya yang sudah tua dan menderita demensia.

"Saya tidak bisa bayangkan bagaimana beliau akan tidur malam ini. Karena biasanya yang mengantar tidur ibunya adalah Bang Saiful. Semoga beliau tenang dengan doa-doa kita dan bisa tidur. Karena penderita demensia itu punya keterbatasan ingatan yang sangat kecil yang hanya bisa mengenal orang-orang tertentu," kata Dian dengan suara bergetar.

Sejak surat pemanggilan disampaikan Kejaksaan hari Senin lalu, lanjut dia, putri bungsu mereka demam tinggi.

Meski masih belia, kata Dian, namun putri bungsu mereka masih mampu mengartikulasi apa yang terjadi. 

"Dalam gigil, dalam demamnya dia memeluk ayahnya dan masih bisa bilang, ayah, you have to be strong, you have to be brave," kata dia.

Tapi kemudian, lanjutnya, ketika putrinya tersebut bertemu dengan kakak-kakaknya dia menangis. 

Dian mengatakan, putrinya tersebut sengaja menyembunyikan air matanya agar ayahnya tegar. 

"Pada kakak-kakaknya dia bilang. Saya janji tidak akan setetes air matapun tumpah di depan ayah karena saya mau ayah berani, saya mau ayah kuat. Tapi saya bilang pada putri-putri saya ini adalah negara merdeka, menangis tidak dilarang, menangis bukan lemah, kita boleh menangis kalau kita sedih," kata Dian.

Ia pun mengatakan kepada mereka agar menuangkan emosi mereka. 

Karena menurutnya, kemerdekaan itulah yang diperjuangkan pendiri bangsa dengan meletakkan kebebasan berpendapat dalam konstitusi.

"Jadi tidak peduli rezim manapun yang berkuasa di negeri ini kebebasan berpendapat harus kita perjuangkan," kata dia.

Halaman
1234
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan