Breaking News:

Mochtar Pabottingi Sandingkan Sosok Munir dengan Mohammad Hatta Hingga Hoegeng

Peneliti Politik LIPI Mochtar Pabottingi menyandingkan sosok Munir dengan sejumlah tokoh bangsa yang dikenal sederhana dan berintegritas tinggi.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Tangkapan Layar/ Gita Irawan
Peneliti Politik di Pusat Penelitian Politik LIPI Mochtar Pabottingi saat Orasi Kebudayaan & Diskusi Publik: Kasus Munir adalah Pelanggaran HAM Berat yang disirkan di kanal Yotube KontraS pada Minggu (5/9/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam rangkaian acara peringatan 17 tahun kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib, Peneliti Politik LIPI Mochtar Pabottingi menyandingkan sosok Munir dengan sejumlah tokoh bangsa yang dikenal sederhana dan berintegritas tinggi.

Mochtar sebelumnya menjelaskan setidaknya ada empat pokok pembicaraan yang berkaitan dengan nilai-nilai yang diyakini Munir semasa hidupnya.

Satu di antaranya adalah keadaban publik Munir yang menurutnya memiliki afinitas nilai pada tokoh-tokoh pendiri bangsa maupun tokoh-tokoh teladan pada generasi di bawahnya.

Mochtar mengungkapkan Munir dan para tokoh tersebut sama-sama mengindahkan prinsip keadilan, kejujuran, dan kesetaraan walaupun masa hidupnya terpisah puluhan tahun.

Selain itu, kata dia, meskipun tampaknya tidak banyak menyimak buku-buku otoritatif tentang mereka, Munir bersambung dengan mereka dalam hal sistem nilai islami dan dunia pasar.

Hal tersebut disampaikannya dalam Orasi Kebudayaan dan Diskusi Publik: Kasus Munir adalah Pelanggaran HAM Berat yang disirkan di kanal Yotube KontraS, Minggu (5/9/2021).

Baca juga: Komnas HAM Proses Permintaan Kasus Munir Jadi Pelanggaran HAM Berat

"Khususnya dalam hal integritas moral pribadi maupun integritas keadaban publik," kata Mochtar dalam orasi budayanya yang bertajuk Memperingati 17 Tahun Pembantaian Munir: Suatu Upaya Orasi Budaya.

Sebagian besar pendiri bangsa, lanjutnya, berlatar belakang kultur Minangkabau yang juga sangat bersifat egaliter dalam tradisi pasar.

Orang Minang, kata dia, rata-rata disebut anak dagang atau anak rantau yang langkah pertamanya adalah memasuki dunia pasar di mana saja kala dewasa.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved