Booster Vaksin Johnson & Johnson Beri Perlindungan hingga 94 Persen

Diketahui, Indonesia beberapa hari yang lalu atau pada 11 September menerima kedatangan vaksin tersebut.

Oli SCARFF / AFP
Ilustrasi vaksin. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sejumlah ahli dunia masih mempertimbangkan pemberian vaksin Johnson & Johnson atau Janssen dalam dua dosis.

Diketahui, Indonesia beberapa hari yang lalu atau pada 11 September menerima kedatangan vaksin tersebut.

WHO dan BPOM merekomendasikan vaksin Janssen diberikan hanya satu kali, sehingga dianggap punya kelebihan karena lebih praktis dengan satu kali suntikan saja.

"Tadi malam 21 September dalam pertemuan yang saya hadiri bersama beberapa Pakar vaksin internasional kami bicarakan tentang hasil-hasil penelitian tentang bagaimana kalau vaksin Johnson & Johnson ini diberikan dua kali (dosis)," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021). 

Baca juga: Kemenkes Diminta Prioritaskan Vaksin Covid-19 Johnson and Johnson untuk Masyarakat Adat

Dalam pertemuan itu, Mantan direktur WHO Asia Tenggara ini menuturkan, pimpinan perusahaan produsen vaksin ini memberi keterangan pers bahwa dua dosis vaksin Johnson & Johnson memberi proteksi sampai 94 persen untuk mencegah seseorang tertular dan sampai bergejala.

"Angka ini sepadan dengan angka proteksi dari vaksin Moderna atau Pfizer yang memang diberikan dua dosis," ungkap Prof Tjandra.

Selain itu, pihak produsen juga menyampaikan bahwa tambahan dosis ke dua vaksin Johnson & Johnson akan meningkatkan imunitas sangat baik dan juga melindungi dari infeksi yang amat berat.

"Produsen vaksin Johnson & Johnson menyebutkan pemberian satu kali vaksin ini menghasilkan respon imun yang kuat dan juga menimbulkan memori kekebalan dalam waktu lama. Dan, bila diberikan booster ke dua diberikan maka kekuatan proteksinya terhadap  COVID-19 akan makin meningkat lagi," terang Prof Tjandra.

Saat ini ujarnya, pihak produsen vaksin ini mulai mencoba membicarakan dengan pejabat kesehatan terkait tentang kemungkinan potensi strategi vaksin Johnson & Johnson diberikan lagi sesudah sekitar 8 bulan atau lebih sesudah pemberian dosis pertamanya.

Baca juga: Brazil dan Argentina Kerja Sama Kembangkan Vaksin mRNA Covid-19 di Amerika Latin

"Perkembangan ini tentu belum banyak dikenal luas di negara kita, karena selama ini yang selalu dibicarakan adalah pemberian vaksin Johnson & Johnson satu kali saja, suatu hal yang menguntungkan dari sudut aplikasi di lapangan," ungkapnya.

Perkembangan baru ini tentu akan jadi kajian lebih lanjut pemerintah dalam menentukan kebijakan vaksinasi Johnson & Johnson.

Di sisi lain hal ini juga menunjukkan, pengetahuan tentang Covid-19 ini sangat dinamis.

"Mulai makin banyak pembicaraan bukan tidak mungkin bahwa dosis ketiga ini akan amat diperlukan para Lansia. Ilmu memang terus berkembang, dan hanya dengan bukti ilmiah yang kuat lah maka program pengendalian Covid-19 di negara kita dapat berjalan dengan sukses," tutur Prof Tjandra

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved