Breaking News:

Sosok Letjen TNI Purn Agus Widjojo, Intelektual Militer yang Dilabeli Tentara Pemikir

Letjen (Purn) TNI Agus Widjojo meluncurkan buku semi-biografi yang menceritakan tentang kehidupannya selama berkarier di militer.

TRIBUN/DANY PERMANA
Gubernur Lemhanas Letjen (Purn) Agus Widjojo berbincang dengan redaksi Tribunnews secara virtual di Kantor Lemhanas, Jakarta, Rabu (23/9/2020). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen (Purn) TNI Agus Widjojo meluncurkan buku semi-biografi yang menceritakan tentang kehidupannya selama berkarier di militer.

Adapun buku tersebut berjudul 'Tentara Kok Mikir? Inspirasi Out of the Box Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo'. Buku itu dituliskan oleh jurnalis senior Bernada Rurit.

Baca juga: Kompolnas Sebut KKB Berupaya Rusak Citra yang Dibangun Pemerintah Soal Kondisi Papua

Menurut Agus, buku ini tidak hanya berisikan kehidupan pribadinya saja.

Namun, buku itu dikemas dengan nilai human interest serta dibubuhi pengetahuan dan sejarah untuk bisa menambah wawasan pembaca.

Baca juga: Kurangi Risiko Penularan Covid-19 di Sekolah, Perhatikan Manajemen Kualitas Udara dalam Ruangan

"Saya banyak belajar juga bahwa awalnya itu saya menganggap enteng. Tetapi ternyata tidak. Dia bisa meramu antara human interest dan sejarah. Peristiwa sejarah dan pengetahuan dan tentunya nyerempet bahwa buku ini nyaris seperti biografi," kata Agus dalam peluncuran buku secara daring, Sabtu (25/9/2021).

Baca juga: Kodam Jaya Dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kota Depok Gelar Tentara Manunggal Membangun Desa

Agus menyampaikan judul buku Tentara Kok Mikir juga diambil karena kisah pribadinya yang kerap dijuluki tentara pemikir. Pasalnya, dia bukan merupakan seorang prajurit yang hanya menuruti perintah atasan.

Lebih jauh, Agus memang dikenal sebagai tokoh intelektual militer. Dia kerap membuat gagasan baru untuk perkembangan militer di Indonesia.

"Tentara pemikir itu dikatakan nyeleneh. Bahwa memang betul itu nyeleneh. Tapi kalau itu sebenarnya menimbulkan bermacam reaksi terutama dari kalangan tentara. Emangnya tentara tidak mikir? bukan itu sebenernya. Itu hanya istilah yang banyak ditujukan kepada saya. Karena saya dianggap terlalu banyak mikir," jelasnya.

Agus menyatakan buku tersebut juga memiliki narasumber-narasumber yang otentik terkait suatu peristiwa sejarah. Pasalnya, sejumlah narasumber telah wafat saat buku tersebut dibuat oleh penulis.

Halaman
12
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved