Gejolak di Partai Demokrat
Herzaky Tegaskan Tak Ada Dualisme dalam Kepengurusan Partai Demokrat, Kemampuan Moeldoko Diragukan
Herzaky menegaskan bahwa tidak ada dualisme di dalam kepengurusan Partai Demokrat, bahkan kemampuan intelegen Moeldoko Diragukan
Penulis:
Galuh Widya Wardani
Editor:
Miftah
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menegaskan bahwa tidak ada dualisme di dalam kepengurusan Partai Demokrat.
Herzaky menyebut kepengurusan Partai Demokrat, hanya ada satu yang sah dan diakui oleh pemerintah.
Hal tersebut disampaikan oleh Herzaky dalam keterangan pers Partai Demokrat yang disiarkan secara virtual melalui Kompas TV, Minggu (3/10/2021).
"Atas nama para pengurus DPP Partai Demokrat, tolong diingat, hanya ada satu kepengurusan Partai Demokrat yang sah dan di akui oleh pemerintah. Tidak ada dualisme," kata Herzaky.
Pernyataan ini disampaikan Herzaky untuk memperjelas posisi Moeldoko saat ini.
Mengenai Moeldoko ingin mengambil alih Partai Demokrat, Herzaky menyebut pihaknya masih meragukan kemampuan politik praktis Moeldoko.
Sebab, sebelumnya Moeldoko sempat kalah dengan Edy Rahmayadi dalam pemilihan Ketua Umum PSSI.
"Soal kemampuan politik praktis, KSP Moeldoko ini agak diragukan kapasitasnya. Jangankan menjadi ketua umum partai politik, menjadi Ketua Umum PSSI saja kalah. Buktinya ia dikalahkan oleh junior empat tahun di bawahnya yakni Pak Edy Rahmayadi yang sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara," terang Herzaky.
Bahkan, kata Herzaky, kemampuan intelegen Moeldoko tumpul dan berkarat.
Ini karena kemampuannya tertutupi ambisi hawa akan kekuasaan.
"Kami juga meragukan kemampuan intelegen KSP Moeldoko, kemampuan intelegen beliau tumpul dan berkarat karena tertutup ambisi dan hawa nafsunya akan kekuasaan," kata Herzaky.
Jika kemampuan intelegennya baik, kata Herzaky, Moeldoko pasti akan mengumpulkan keterangan hingga mencerna informasi terlebih dahulu saat ada penawaran menjadi Ketua Umum Partai Demokrat melalui KLB.
Sehingga memiliki kemampuan untuk membaca peta politik atau peta kekuatannya.
"Jika kemampuan intelegennya baik, ketika ada kader Partai Demokrat menawarkan KSP Moeldoko untuk menjadi ketua umum melalui KLB (di Deli, Serdang), tentu saja KSP Moeldoko akan melakukan langkah-langkah intelegen, mulai dari mengumpulkan keterangan hingga menilai informasinya, sehingga memiliki kemampuan untuk membaca peta politik atau peta kekuatannya," jelas Herzaky.
Konflik Moeldoko dengan AHY Temui Babak Baru
Mengutip Tribunnews.com, Rabu (6/10/2021), Pengamat politik UIN Syarief Hidayatullah, Adi Prayitno turut menanggapi polemik dualisme di Partai Demokrat yang melibatkan kubu Moeldoko dan kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang kini memasuki babak baru.
Sebelumnya perlawanan kubu Moeldoko hanya bicara politik narasinya.
Namun kini, kata Adi, perlawanan yang dilakukan kubu Moeldoko cukup berbeda, yakni mengambil langkah hukum.
Baca juga: Yusril Lancarkan Serangan Baru ke Partai Demokrat: Siap-Siap Hadapi Argumen di Mahkamah Agung
"Perlawanan sekarang pada level hukum, kalau dulu bicara politik narasinya agak salah karena SK Kemenkumham sudah dimenangkan kubu AHY," kata Adi, Senin (27/9/2021).
Publik, kata Adi, sempat menilai perlawanan kubu Moeldoko telah selesai setelah SK dari Kemenkumham telah selesai dan dimenangkan oleh kubu AHY.
Tetapi kenyataannya, kubu Moeldoko kembali melakukan perlawanan dengan serangan yang cukup serius.
"Publik melihat setelah SK dimenangkan (kubu AHY) seakan-akan eks Demokrat dan Moeldoko ini selesai perlawanannya. Tapi nyatanya mereka mengeluarkan dua peluru yang relatif agak serius karena mereka sedang menggugat ke PTUN terkait SK Kemenkumhan dan AD/ARTnya," ujar Adi.
Moeldoko Takkan Berhenti Sampai Tujuannya Tercapai
Mengutip Tribunnews.com, Herzaky mengabarkan terkait respons SBY tentang polemik partainya dengan Moeldoko.
SBY, kata Herzaky, sebelumnya telah memprediksi bahwa Moeldoko tak gentar demi mencapai tujuannya.
Hal itu disampaikannya saat wawancara khusus dengan Tribunnetwork, Selasa (5/10/2021).
"Beliau menyampaikan kepada kami dengan gaya beliau yang tenang, beliau tenang saja melihat ini. Dan beliau sampaikan bahwa ini sudah seperti yang diprediksi sebelumnya bahwa Moeldoko ini orangnya tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuannya," kata Herzaky.
Untuk itu, SBY mengingatkan bahwa merespons gugatan itu harus dengan langkah-langkah yang terukur.
"Tentunya dalam menghadapi ini harus terukur ini pesan beliau yang disampaikan kepada kami," ucapnya.
(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani/Chaerul Umam)