Breaking News:

Muktamar NU

Polarisasi Partai Politik di Muktamar NU Tak Terbendung, PKB Masih Wait and See

Para kyai sepuh, khususnya calon-calon terkuat yang akan maju, mereka bukanlah politisi ulung.

Editor: Husein Sanusi
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Polarisasi Partai Politik di Muktamar NU Tak Terbendung, PKB Masih Wait and See

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Polarisasi Nahdliyyin jelang Muktamar NU ke-34 betul-betul tidak dapat dipungkiri. Atmosfer penuh sensitif semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kekhawatiran sebagian warga tentang runtuhnya marwah organisasi dan citra kyai sulit dihindari lagi. Jika ditelusuri lebih jauh, tampaknya biang keladi semua kekisruhan ini adalah permainan tangan-tangan elit politisi namun berafiliasi kepada partai politik.

Bila hendak dipetakan secara spesifik, setidaknya ada dua tokoh sentral yang belakangan mewarnai media massa. Pertama, figur Drs. H. Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Tokoh ini paling banyak memancing kontroversi melalui berbagai statemennya. Terlepas dari apa konten pembicaraan yang Gus Ipul angkat, latarbelakang politik yang menopang dia adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Gus Ipul adalah politisi senior, yang suka berloncatan, dari PDIP ke PKB dan terakhir berlabuh di PPP.

Kedua, figur muda Nusron Wahid. Tampaknya tokoh yang satu ini adalah tokoh intelektual yang menggawangi pemenangan calon ketua umum tertentu. Walaupun sorotan media mainstream tidak begitu banyak mengekspos gerak langkah gus Nusron, tetapi tangan dinginnya sangat penting dipertimbangkan. Latarbelakang politik gus Nusron adalah Golkar. Bisa dibilang juga, Gus Nusron adalah salah satu kader terbaik NU yang secara kapasitas lebih layak menjadi Calon Ketum PBNU ketimbang sekedar tim sukses.

Masalahnya adalah Gus Muhaimin Iskandar (cak Imin), Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), memilih sikap "wait and see", seakan-akan sedang mengulur waktu dan menghitung kekuatan lawan, sebelum memutuskan langkah untuk melawan. Pilihan sikap untuk "wait and see" tentu saja adalah preferensi personal Cak Imin. Namun, sikap semacam itu sama saja membiarkan tubuh NU terus-menerus digerogoti oleh kader-kader parpol yang tidak dilahirkan oleh NU.

Para kyai sepuh, khususnya calon-calon terkuat yang akan maju, mereka bukanlah politisi ulung. Nama-nama yang muncul ke publik, dan yang diyakini bertarung face-à-face di Muktamar NU, tidak memiliki latarbelakang politik yang handal. Bagaimana pun, para kyai sepuh ini bagaikan "bidak-bidak" di atas papan catur. Mereka hanya bermodalkan karisma, intelektualitas, dan integritas personal. Berbeda jauh bila dibandingkan dengan tiga figur yang menjadi dalang utama.

Sebelum terlalu jauh bicara, perlu ditekankan lebih awal di sini bahwa Muktamar NU ini bukan ajang persaingan para figur besar kyai, melaikan sepenuhnya akan menjadi ajang permainan tiga tokoh dengan tiga latar belakang parpol (PPP, PKB, Golkar) berbeda. Belum lagi kalau melihat lebih jauh latar belakang Gus Ipul, yang sempat mesra dengan PDIP. Tentu Muktamar NU adalah persaingan empat partai. Dalam konteks ini, figur-figur karismatik yang akan maju ke pentas persaingan kekuasaan betul-betul tidak punya visi politik apapun, mereka sepenuhnya adalah wayang yang dimainkan para dalang.

Prinsip "wait and see" dari PKB, yang notabene parpol kelahiran NU, adalah prinsip politik yang tidak tepat. Cak Imin dan seluruh kader PKB tidak dapat membiarkan Gus Nusron dan Gus Ipul terlalu percaya diri dan melangkah lebih jauh. Dampaknya sudah sangat kentara hari ini. Polarisasi tidak terhindarkan. Citra kyai dan marwah organisasi dipertaruhkan. Tanggung jawab PKB sebagai anak kandung NU harus menyelamatkan "orangtuanya" dari gerogotan oknum politikus.

Calon "alternatif" mungkin bisa dipertimbangkan. Kehadiran calon lain yang bisa diterima semua pihak dapat dicoba. Tetapi, "wait and see" tetap bukan prinsip yang tepat, karena waktu jelang Muktamar NU sudah begitu dekat. Mencari figur ketiga tidak mudah, karena konfrontasi yang terbangun hingga sekarang sudah tampak mencapai level didih. Ada kesan kengototan dari masing-masing kubu untuk terus berjuang memenangkan jagoan masing-masing hingga meraih puncak kekuasaan di tubuh NU.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved