Rabu, 3 Juni 2026

Doni Monardo Bicara Blue Economy dan Intelijen Perikanan kepada Siswa PPRA Lemhannas

Doni mengatakan bahwa potensi perikanan Indonesia adalah 12 juta ton per tahun

Tayang:
Editor: Erik S
Istimewa
Ketua Umum PP PPAD LetjenTNI Purn Doni Monardo saat menerima para siswa Program Pendidikan Reguler (PPRA) 62 Lemhannas markas PPAD, Jl. Matraman, Jakarta Timur, Senin (4/4/2022). 

Jangan seperti era 2003 – 2005, saat banyak sekali nelayan Filipina masuk perairan Indonesia, utamanya di Maluku dan Maluku Utara. Bahkan, kata Doni, mereka sampai berani membunuh aparat kepolisian RI yang berpatroli.

Mereka menguasai wilayah-wilayah yang diketahui banyai ikan, teripang, penyu, dan lain-lain. Celakanya, kata Doni, dalam menangkap tadi mereka menggunakan bahan peledak.

“Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dua kapal mereka sudah penuh dengan ikan-ikan dan hasil laut kita,” kata Doni.

Indonesia juga terikat pada kesepakatan Swiss tahun 2017 mengenai strategi penangkapan ikan. Bahwa penangkapan ikan di alam harus memperhatikan aspek penjagaan populasi. Jika tidak, maka cepat atau lambat ikan-ikan di laut juga bisa berkurang bahkan habis.

“Jangan dipikir ikan di laut tidak bisa habis,” ujar Doni Monardo.

Baca juga: Produksi Perikanan Mendekati 3 Juta Ton, KKP Pastikan Stok Aman hingga Lebaran

Bukan itu saja. Seminar tadi juga mengingatkan kepada seluruh pemimpin dunia, bahwa ikan di laut luas bukan milik satu negara, tetapi juga milik seluruh negara yang memiliki teritori laut. Sebab, ikan itu bermigrasi, berbeda dengan ikan yang ada di danau atau sungai.

Karena itu, aspek pemeliharaan lingkungan juga menjadi hal penting. Jangan sampai, pencemaran di daerat kemudian mencemari laut yang bisa mencemarik ikan. Contoh, logam berbahaya seperti mercuri. Jika itu terjadi, cepa atau lambat akan ketahuan, dan ini bisa berdampak jatuhnya sanksi.

Terlebih, Indonesia telah meratifikasi Undang-undang (UU) No 11 tahun 2017 tentang Pengesahan Minamata Convention On Mercury (Konvensi Minamata Mengenai Merkuri). Pengalaman bertugas di Paspampres, Doni menjadi paham, bahwa banyak ikan dari perairan Indonesia yang tercemar mercuri.

“Semua penggunaan merkuri harus menjadi perhatian pemerintah untuk ditindak. Di Kabupaten Mandailing Natal, sejumlah bayi lahir tidak normal. Ada yang kepalanya besar, bagian dalam perut ada di luar, dan banyak kisah tragis lain. Itu karena ibu-ibunya banyak bekerja di pertambangan illegal yang mengandung mercuri serta mengonsumsi makanan dan minuman yang tercemar mercuri,” kata Doni Monardo.

Kita tidak bisa bicara blue economi kalau tidak dibarengi penataan lingkungan. Termasuk Doni menyebut kerang yang ditangkap di Teluk Jakarta sebagai kerang yang tidak baik untuk dikonsumsi, karena sudah tercemar limbah berat.

Lebih jauh, Doni juga menyinggung sekilas mengenai Program Citarum Harum, bagaimana ia memulihkan kondisi Sungai Citarum dari status sungai terkotor di dunia menjadi tercemar ringan, serta tercemar sedang di beberapa bagian.

Sementara Citarum mengaliri tiga waduk, Saguling, Jatiluhur, dan Cirata. Selain itu, ia juga mengalir ke Kalimalang, yang sebagian besar menjadi bahan baku PDAM. “Jadi PDAM itu tidak pernah berani men-declare airnya bisa diminum. Karena itu, saya pernah bergurau, PDAM bukan perusahaan daerah air minum, tapi perusahaan daerah air mandi,” kata Doni sambil tertawa.

Sukses Emas Biru

Sebelum melanjutkan paparannya di depan para siswa PPRA 62 baik yang hadir di markas PPAD maupun hadir secara daring, Doni Monardo menampilkan kisah sukses Emas Biru yang ia gulirkan di Maluku, saat menjadi Pangdam di sana. Dua narasumber diundang, dan diminta berbicara.

Yang pertama diminta berbicara adalah tokoh emas biru budidaya ikan laut, Jefri Slampta. Ia adalah seorang PNS di Kodam XVI/Pattimura.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved