Senin, 1 September 2025

Kapal Selam Nanggala Hilang Kontak

Mengenang Setahun Tenggelamnya KRI Nanggala-402, Patroli Keabadian sang Monster Bawah Laut

Kamis (21/4/2022) adalah satu tahun tenggelamnya KRI Nanggala-402. Kapal selam yang dijuluki Monster Bawah Laut itu kini patroli dalam keabadian.

Penulis: Sri Juliati
Editor: Arif Fajar Nasucha
KOMPAS.com/CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO
Kapal selam KRI Nanggala 402. Kamis (21/4/2022) adalah satu tahun tenggelamnya KRI Nanggala-402. Kapal selam yang dijuluki Monster Bawah Laut itu kini patroli dalam keabadian. 

TRIBUNNEWS.COM - Tepat pada Kamis (21/4/2022) hari ini adalah satu tahun peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala-402.

KRI Nanggala-402 yang membawa 53 awak tenggelam di Perairan Bali pada Rabu, 21 April 2021 dan seluruh personel dinyatakan gugur.

Tenggelamnya kapal selam yang dijuluki 'Monster Bawah Laut' itu meninggalkan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebab, setelah masa tugasnya selama 40 tahun, kini KRI Nanggala-402 melakukan patroli untuk selamanya dalam keabadian bersama 53 prajurit terbaiknya atau On Eternal Patrol.

Baca juga: Panglima TNI Serahkan Perumahan Pahlawan Kepada Ahli Waris Prajurit KRI Nanggala-402

Baca juga: Ungkapan Syukur dan Harapan Istri Prajurit KRI Nanggala-402 yang Anaknya Berhasil Jadi Taruna AAL

Berikut linimasa tenggelamnya KRI Nanggala-402 yang dirangkum Tribunnews.com dari berbagai sumber:

1. Hilang Kontak

Sebelum dinyatakan tenggelam, Nanggala-402 sempat dinyatakan hilang kontak (sublook) pada Rabu dinihari.

Saat itu, KRI Nanggala-402 tengah mengikuti latihan penembakan rudal C-802 dan torpedo kepala perang dengan sasarannya adalah salah satu KRI.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Yudo Margono mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari pembinaan, kemampuan, dan kekuatan TNI AL.

Pukul 02.30 adalah waktu dilaksanakannya isyarat terbit atau mulai latihan.

Satu jam kemudian, KRI Nanggala-402 meminta izin untuk menyelam periscope depth pada kedalaman 13 meter sekaligus persiapan untuk menembak torpedo.

Sesuai prosedur, kapal selam akan didampingi searider penjejak dalam setiap penembakan.

Pukul 03.00-03.30 waktu setempat, searider masih dapat melihat geladak, haluan, serta conning tower kapal selam KRI Nanggala-402 dalam jarak 50 meter.

Pada pukul 03.46, searider memonitor periscope dan lampu pengenal kapal selam KRI Nanggala-402 perlahan-lahan mulai menyelam dan tidak terlihat.

Selanjutnya, dalam rentang satu jam hingga pukul 04.46, tim terus terus-menerus memanggil kapal selam KRI Nanggala-402, tapi tidak ada respons.

KSAL juga menjelaskan, seharusnya periscope kapal selam KRI Nanggala-402 masih terlihat saat menyelam.

Namun saat itu, KRI Nanggala-402 langsung tenggelam dan komunikasi sudah tidak bisa terjalin.

Pukul 05.15 adalah waktu yang dijadwalkan KRI Nanggala-402 sudah harus timbul.

Namun, pada waktu yang telah ditentukan, kapal selam tersebut tak kunjung timbul atau muncul di permukaan.

Baca juga: Penuh Lumpur, Ini Kondisi Kawah Dasar Laut yang Diduga Menjadi Lokasi Badan Kapal KRI Nanggala 402

Baca juga: Istri Prajurit TNI Angkatan Laut Seluruh Indonesia Doa Bersama untuk Awak KRI Nanggala 402

2. Proses Pencarian

KRI Nanggala-402
KRI Nanggala-402 (Foto: Dinas Penerangan Angkatan Laut)

Tiga jam setelah hilang kontak, status KRI Nanggala-402 dinaikkan menjadi submissed.

Proses pencarian pun dilakukan dengan melibatkan seluruh unsur dan latihan ditunda.

TNI AL kemudian melakukan pencarian menggunakan KRI Raden Eddy Martadinata-313, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, dan KRI Diponegoro-365.

Mereka memanfaatkan sonar aktif di lokasi sekitar penyelaman KRI Nanggala-402 walau hasilnya nihil.

Saat dilakukan pengamatan udara pada pukul 07.00 Wita, ditemukan tumpahan minyak dan bau solar di sekitar lokasi penyelaman kapal.

KRI Rigel dari Jakarta dan KRI Tengat dari Satuan Ranjau turut membantu pencarian menggunakan side scan sonar pada pukul 14.00 Wita.

Saat itu, dugaan sementara, KRI Nanggala-402 berada di palung kedalaman 700 meter laut Bali.

Selanjutnya, TNI juga mengerahkan 21 kapal perang untuk melakukan proses pencarian ditambah empat bantuan kapal dari Kepolisian.

Seperti Kapal Polisi (KP) Gelatik-5016, KP Enggang-4016, KP Barata-8004, dan KP Balan-4017.

Bala bantuan untuk mencari keberadaan KRI Nanggala-402 juga datang dari sejumlah negara.

Singapura mengirimkan kapal selam MV Swift Rescue; Malaysia mengerahkan bantuan dengan kapal Rescue Mega Bakti.

Australia juga mengerahkan dua armada kapal, HMAS Ballarat (FFH 155) dan HMAS Sirius (O 266).

India mengirimkan satu kapal untuk membantu pencarian dan Amerika Serikat memberikan bantuan dengan mengirimkan pesawat P-8 Poseidon.

Di sisi lain, proses pencarian KRI Nanggala-402 yang terus berlangsung juga berpacu dengan waktu.

Pasalnya, kapasitas oksigen dalam kapal selam mampu bertahan selama 72 jam sejak menyelam.

Artinya, bila kapal menyelam pada pukul 03.00, akan bertahan hingga Sabtu (24/4/2021) pukul 03.00 jika dalam kondisi blackout.

3. Dinyatakan Tenggelam

Gambar dari kamera kapal MV Swift Rescue, ditangkap di kedalaman 838m, menunjukkan bagian lambung dari kapal selam yang tenggelam.
Gambar dari kamera kapal MV Swift Rescue, ditangkap di kedalaman 838m, menunjukkan bagian lambung dari kapal selam yang tenggelam. (Dok. TNI AL)

Tujuh puluh dua jam berlalu. KRI Nanggala-402 pun dinyatakan tenggelam (subsunk) pada Sabtu (24/4/2021).

Laksamana Yudo mengatakan, sejumlah barang yang diduga kuat merupakan bagian dari kapal selam KRI Nanggala-402 ditemukan dalam pencarian.

Barang tersebut antara lain kepingan hitam yang merupakan pelurus tabung torpedo.

Kemudian pembungkus pipa pendingin hingga botol berisi cairan oranye yang merupakan pelumas untuk naik-turunnya periskop kapal selam.

Termasuk alas yang dipakai ABK KRI Nanggala untuk sholat dan spon penahan panas juga ikut ditemukan.

Keesokan harinya, Minggu (25/4/2021), Panglima TNI saat itu, Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan gugurnya seluruh personel yang berada di dalam kapal selam.

Rasa kesedihan pun tak terhindarkan sejak Panglima TNI hendak menyampaikan kabar tersebut.

Suaranya terdengar bergetar dan tercekat. Bahkan ia sempat menghela nafas panjang, berhenti sejenak dan menunduk sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Dengan kesedihan mendalam, selaku Panglima TNI, saya nyatakan bahwa 53 personel yang on board KRI Nanggala-402 telah gugur," ucapnya.

"Prajurit-prajurit terbaik Hiu Kencana telah gugur saat melaksanakan tugas di utara perairan Bali," kata Hadi terdengar bergetar.

4. Terbelah Menjadi Tiga

Bagian KRI Nanggala 402 yang ditemukan dan diperlihatkan, Selasa (18/5/2021).
Bagian KRI Nanggala 402 yang ditemukan dan diperlihatkan, Selasa (18/5/2021). (Youtube KompasTV)

Laksamana Yudo menambahkan, KRI Nanggala-402 terbelah menjadi tiga dan ditemukan di kedalaman 830 meter.

Tiga bagian kapal ini ditemukan di utara perairan Bali, pada Minggu (25/4/2021) dini hari.

Mulanya, bagian kapal ini ditemukan oleh KRI Rigel dengan menggunakan alat multi beam echo sounder.

Dikutip dari Kompas.com, melalui alat itu, pukul 01.00 Wita berhasil melakukan kontak di bawah air di sekitar posisi tenggelamnya kapal selam.

"Melakukan kontak bawah air di sekitar posisi datum atau saat tenggelamnya KRI Nanggala pada kedalaman 830 meter," kata Yudo.

Untuk memastikannya lagi, maka diturunkan ROV milik kapal Singapura MV Swift Rescue, pukul 07.37 Wita.

Lalu pada pukul 09.04 Wita, ROV Singapura mendapat visual dari datum tempat tenggelamnya KRI Nanggala

Dari foto visual itu nampak KRI Nanggala-402 sudah menjadi tiga bagian.

Ia juga mengatakan, analisis awal tenggelamnya KRI Nanggala-402 lebih pada faktor alam.

Dari sejumlah laporan awal penyebab tenggelamnya kapal selam buatan Jerman ini juga bukan karena kesalahan manusia maupun black out atau mati listrik.

Upaya pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 telah mencapai titik akhir.

5. Monumen KRI Nanggala-402

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Yudo Margono melakukan peletakan batu pertama pembangunan Monumen KRI Nanggala-402 di Koarmada II, Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis (3/6/2021). Kegiatan itu sebagai rangkaian peringatan 40 hari musibah On Eternal Patrol KRI Nanggala-402 yang diisi dengan berbagai acara di antaranya doa bersama, pemberian beasiswa bagi keluarga prajurit TNI AL yang gugur bersama KRI Nanggala-402, dan penyerahan rumah tipe 45.
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Yudo Margono melakukan peletakan batu pertama pembangunan Monumen KRI Nanggala-402 di Koarmada II, Kota Surabaya, Jawa Timur, Kamis (3/6/2021). Kegiatan itu sebagai rangkaian peringatan 40 hari musibah On Eternal Patrol KRI Nanggala-402 yang diisi dengan berbagai acara di antaranya doa bersama, pemberian beasiswa bagi keluarga prajurit TNI AL yang gugur bersama KRI Nanggala-402, dan penyerahan rumah tipe 45. (Surya/Ahmad Zaimul Haq)

Untuk mengenang kiprah kapal selam yang dijuluki 'Monster Bawah Laut' itu, TNI AL mendirikan monumen KRI Nanggala-402.

Monumen ini berlokasi di sekitar Markas Komando Armada (Koarmada) II, Surabaya, Jawa Timur dan diresmikan oleh Laksamana Yudo Margono pada 15 Januari 2022.

"Monumen KRI Nanggala-402 yang kita resmikan hari ini dibangun sebagai lambang keabadian semangat pengabdian para syuhada bangsa."

"Untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas dedikasi, loyalitas, dan pengorbanan para prajurit Nanggala demi kejayaan TNI Angkatan Laut, Bangsa dan Negara tercinta," kata Yudo saat meresmikan monumen tersebut.

Monumen ini terdiri dari dua bagian, yakni pada outdoor dalam posisi berlayar dan bertempur persiapan melaksanakan operasi.

Kemudian landscape monumen memadukan unsur visual daratan dan perairan yang dikemas secara estetis dan dinamis yang bermakna simbolis wilayah Nusantara.

Adapula wall of memorial atau dinding peringatan yang mengabadikan nama-nama para pahlawan KRI Nanggala-402.

Sementara, area indoor, menampilkan narasi dan gambar serta infografis yang merepresentasikan jejak pengabdian KRI Nanggala-402.

Termasuk lintasan sejarah kapal selam TNI AL, termasuk foto profil para komandan dari masa ke masa serta profil 53 prajurit KRI Nanggala-402.

Kini, KRI Nanggala-402 bersama 53 prajurit Hiu Kencana yang mengawakinya telah berada di persemayaman terakhir.

Mereka pun melakukan patroli terakhir untuk selamanya demi menjaga laut Indonesia.

Selamat jalan dan selamat bertugas dalam keabadian, KRI Nanggala-402. Fair wind and following seas, sailors!

(Tribunnews.com/Sri Juliati/Wahyu Gilang/Srihandriatmo Malau) (Kompas.com/Achmad Nasrudin Yahya)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan