Minggu, 31 Agustus 2025

Sembako bantuan Presiden

JNE Rela Honor Kerja Sama Dipotong agar Beras Bansos Tidak Disalahgunakan

JNE mengungkap alasan mengubur beras Bantuan Sosial (Bansos) Presiden di Kawasan  Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Editor: Hasanudin Aco
Warta Kota
Temuan beras bansos yang dikubur di Depok. 

TRIBUNNEWS.COM,  JAKARTA - Perusahaan jasa pengiriman, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE)  mengungkap alasan mengubur beras Bantuan Sosial (Bansos) Presiden di Kawasan  Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Kuasa Hukum JNE,  Hotman Paris Hutapea mengatakan pihaknya takut jika beras yang sudah busuk itu  dibuang ke sembarang tempat akan disalahgunakan oleh pihak tidak  bertanggungjawab.

“Kalau nanti ini beras dibuang sembarangan takutnya disalahgunakan orang, dipakai,” kata Hotman Paris dalam konferensi pers di kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (4/8/2022).

"Apalagi itu karung itu kan ada logonya banpres kalau kita buang sembarang tempat  nanti sama orang diambil dibuang nanti kita yang dituduh membuangnya," kata Hotman.

Baca juga: Hotman Paris Ungkap Nilai Bansos Rusak yang Dibuang JNE

Selain itu, kata Hotman, beras yang rusak itu pun sudah diganti dengan yang baru oleh perusahaan untuk selanjutnya kembali dibagikan ke masyarakat.

“Beras penggantinya  dipesan baru dan kemudian dibagikan ke rakyat. Dari kantong sendiri JNE sebagai  perusahaan,” ucap Hotman.

Ia menjelaskan, mekanisme pembayaran atas beras yang rusak ini melalui pemotongan honor kerja sama antara JNE dengan stakeholder terkait.

“Untuk mencegah beras  disalahgunakan karena sudah busuk takut timbulkan masalah apalagi ada stempel  banpres nanti malah JNE yang dituduh,” tuturnya.

Hotman menyatakan, beras yang didistribusikan oleh JNE sebanyak 6.199 ton untuk 247.997 keluarga penerima manfaat (KPM) di wilayah Depok.

Menurutnya dari sekian  ribu ton bansos tersebut, pastinya menjadi hal wajar jika ada sebagian kecil mengalami  kerusakan saat pengiriman.

"Tentu Anda maklum 6 ribu ton ini diangkut, kemungkinan rusak ada kena hujan dan sebagainya. Menurut kontrak, kalau ada kerusakan tanggung jawab JNE, harus ganti  beras baru," ujarnya.

Dengan demikian, setiap ada kerusakan, JNE minta ke PT StoreSend eLogistic Indonesia (SSI) untuk beras baru menggantikan yang rusak.

"Beras baru mengganti  beras rusak, namanya dokumen debit note.  Kalau dari 6.199 ton beras banpres, kalau  ada yang rusak, maka tanggung jawab dari JNE, harus ganti rugi," kata Hotman.

Setelah JNE meminta beras pengganti yang rusak hanya 3,4 ton, kemudian segera dikirimkan kepada keluarga penerima manfaat.

"Jumlah beras yang rusak hanya 3,4 ton  dari 6.199 ton, atau 3.400 kilogram. Jadi, bukan 340 ton yang rusak, kalau secara  persentase hanya 0,05 persen, kurang dari setengah persen yang rusak," ujar Hotman. 

Halaman
123
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan