Minggu, 31 Agustus 2025

Ibas Sebut Bonus Demografi Harus Diimbangi dengan Pengelolaan Lingkungan

Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyoroti perlunya pengelolaan lingkungan sebagai penyeimbang bonus demografi di Indonesia.

Tribunnews.com/Chaerul Umam
Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), di kompleks DPR/MPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024). 

TRIBUNNEWS.COM - Anggota Komisi XII DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyoroti perlunya pengelolaan lingkungan sebagai penyeimbang bonus demografi di Indonesia.

Menurut Ibas, bonus demografi juga melahirkan adanya bonus sampah yang perlu dikelola secara terpadu.

“Bonus demografi berarti kita butuh lebih energi tentu perlu penggunaan energi terbarukan, bukan berarti fosil tidak dipakai."

"Berarti kita butuh lebih makanan perlunya pengembangan pertanian berkelanjutan,” jelas Ibas, dikutip dari laman DPR, Minggu (15/12/2024).

Ibas menyoroti isu perubahan iklim, bagaimana kenaikan suhu global akibat emisi gas rumah kaca yang berasal dari aktivitas manusia. 

Lalu kerusakan lingkungan yaitu deforestasi, polusi udara, dan air serta penurunan biodiversitas yang semakin mengancam ekosistem global. 

Serta ketiga adalah keterbatasan sumber daya alam.

“Pemakaian sumber daya alam yang berlebihan dan tidak terbarukan, serta kebutuhan akan pengelolaan yang belum bijaksana,” ungkap Ibas.

Setidaknya ada empat poin yang diusulkan Ibas sebagai solusi.

Baca juga: Tugu Insurance Gelar Program Waste Management Bank Sampah Emas 06 Kebon Jeruk

1. Pengelolaan Sampah Terpadu

Menurut Ibas, bonus demografi menjadikan adanya bonus sampah.

"Pembicaraan pentingnya mengurangi, menggunakan, dan mendaur ulang sampah serta memberikan peran masyarakat dalam mengelola limbah secara, sistematis, teratur, tepat sasaran, tepat guna harus kita pikirkan bersama."

"Refuse (menolak), reduce (mengurangi), recycle (mendaur ulang), reuse (memakai kembali), remanufacture (memproduksi ulang), repurpose (mengganti tujuan),” papar Ibas.

2. Penggunaan Energi Tebarukan

Ibas mengatakan, bonus demografi membuat kebutuhan energi bertambah.

"EBT (energi baru terbarukan) bisa menjadi solusi. Sehingga diskusi mengenai transisi dari energi fosil ke energi terbarukan seperti hydro, angin, listrik dan lainnya perlu untuk kita lakukan."

"Walaupun bukan berarti fosil tidak dipakai. Dan investasi dalam infrastruktur hijau perlu lebih dikembangkan,” lanjut Ibas.

3. Pertanian Berkelanjutan

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

asia sustainability impact consortium

Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan