Webinar Peringatan Hari Internasional Lawan Islamofobia Diikuti 500 Peserta
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Republik Indonesia Anis Matta mengatakan, Islamofobia lahir dari luka lama antara Islam dan Barat.
Sebab jika tidak, mereka akan berhadapan dengan rakyatnya sendiri yang kian hari semakin banyak yang beragama Islam.
“Islamofobia pada akhirnya akan melemah dan meredup, tetapi tidak menghilang. Sebab di Al-Qur’an ada ayat ‘Walan tardha ankal Yahudu wa lan Nashara’ (Al-Baqarah 120, red). Muatan politiknya akan melemah, tetapi muatan agamua meningkat,” jelasnya.
Indonesia, kata Buya Anwar, dalam upaya memerangi Islamofobia harus berdiri di garda terdepan.
Karena itu posisi Indonesia di dunia intgernasional harus semakin kuat dan menguat.
“Caranya kita harus membuat umat Islam menguasai ekonomi bisnis, dan menguasai iptek,” kata Buya Anwar.
Ketua PP Muhammadiyah itu berpandangan, jika umat Islam mampu menguasai ekonomi bisnis dan iptek, maka dunia akan merapat tanpa mempedulikan lagu agama, suku dan negara.
“Saya yakin dan percaya bila umat Islam membangun kekuatan ekonomi dan iptek, maka Islamofobia akan melemah,” tandasnya.
Selain Anis Matta dan Buya Anwar, Webinar yang dimoderatori langsung oleh UBN itu juga menghadirkan Anggota Komisi I DPR Desy Ratnasari dan Anggota Komisi X DPR Ahmad Dhani Prasetyo.
Untuk diketahui, Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi A/RES/76/254.
Tanggal 15 Maret dipilih karena tanggal tersebut merupakan hari peringatan penembakan di Masjid Christchurch yang menewaskan 51 orang.
Dua penembakan massal berturut-turut terjadi di Masjid Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019.
Baca juga: Hasutan dan Kejahatan Islamofobia Meningkat Pesat di Eropa
Penembakan tersebut dilakukan oleh seorang pelaku tunggal pada saat salat Jumat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/wamenlu-anis-matta-jadi.jpg)