Jumat, 15 Mei 2026

Bagaimana Kesiapan Militer Indonesia Jika Terjadi Perang Dunia? Ini Kata Panglima TNI

Di tengah kekhawatiran meningkatnya ketegangan global—mulai dari konflik di Timur Tengah hingga persaingan militer di Laut China Selatan—pernyataan

Tayang:
Penulis: Reza Deni
Puspen TNI/Puspen TNI
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, S.E., M.Si., memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ke-72, bertempat di Lapangan Markas Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (30/4/2024). HUT ke 72 Kopassus dihadiri Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., dan pejabat lainnya. (Puspen TNI/HO/Tribunnews.com) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah situasi geopolitik dunia yang kian memanas, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto buka suara soal kesiapan militer Indonesia jika terjadi perang berskala global. 

Menurutnya, Indonesia tidak tinggal diam dan terus memperkuat strategi pertahanan melalui diplomasi militer dan kerja sama internasional.

"Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan tetap melaksanakan hubungan secara diplomatik militer dengan panglima tentara di beberapa negara," ujar Agus usai menghadiri agenda di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7/2025).

Agus menyatakan, TNI memiliki jejaring kerja sama militer yang luas, termasuk dengan negara-negara besar. Bentuk kerja sama ini meliputi kunjungan bilateral, pertukaran pelajar militer, dan latihan gabungan dengan berbagai negara sahabat.

"Apakah kita yang berkunjung ke sana, atau panglima atau kepala staf angkatan dari negara lain yang berkunjung ke Indonesia," lanjutnya.

Baca juga: Iran Resmi Putus Kerja Sama dengan IAEA usai Perang 12 Hari Lawan Israel dan AS

Ia menambahkan, saat ini TNI sudah menjalin hubungan pendidikan militer dengan 26 negara. Program ini mencakup pengiriman prajurit dari tingkat kapten hingga peserta Lemhannas ke luar negeri.

"Demikian juga dari negara-negara ASEAN ataupun Asia Pasifik, itu mengirim (personel militer) ke Indonesia untuk mengikuti pendidikan yang sama," tandas Agus.

Selain memperkuat kapabilitas personel melalui pelatihan lintas negara, TNI juga berkomitmen menjaga hubungan strategis yang aktif dan terbuka. Strategi ini diyakini menjadi kunci penting jika terjadi krisis global atau konflik bersenjata berskala besar.

Di tengah kekhawatiran meningkatnya ketegangan global—mulai dari konflik di Timur Tengah hingga persaingan militer di Laut China Selatan—pernyataan Panglima TNI menegaskan bahwa Indonesia menjaga siaga, namun tetap mengedepankan jalur diplomatik.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved