Senin, 18 Mei 2026

Tingkatkan Kualitas SDM, RI dan Australia Kolaborasi di Sektor Tenaga Kerja

Kebutuhan tenaga kerja terampil merupakan tantangan nyata yang mempengaruhi rencana pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045

Tayang:
Penulis: Sanusi
Editor: Eko Sutriyanto
Istimewa
KESENJANGAN KETRAMPILAN - Menandai ulang tahun ke-80 kemerdekaannya, Indonesia masih menghadapi tantangan kesenjangan keterampilan yang terus-menerus dalam hal tenaga kerja. Menurut BPS (2022), lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia dipekerjakan dalam posisi yang tidak relevan dengan latar belakang pendidikan atau keahlian mereka. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menandai ulang tahun ke-80 kemerdekaannya, Indonesia masih menghadapi tantangan kesenjangan keterampilan yang terus-menerus dalam hal tenaga kerja

Menurut BPS (2022), lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia dipekerjakan dalam posisi yang tidak relevan dengan latar belakang pendidikan atau keahlian mereka. 

Ketidaksesuaian ini berkontribusi pada angka pengangguran 7,28 juta, dengan pemuda (usia 15-24) menyumbang 3,55 juta. Khususnya, 871.860 di antaranya memegang gelar sarjana (BPS, Februari 2025), namun berjuang untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. 

Sementara itu, pemberi kerja menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan bakat dengan kemampuan yang tepat.

"Investasi di Indonesia bergeser ke sektor yang lebih padat modal, dan keterampilan yang kita butuhkan berubah sesuai dengan hal tersebut. Kita harus menyesuaikan pelatihan untuk mengimbangi industri dan teknologi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta W Kamdani.

Baca juga: Dorong Daya Saing SDM Kawasan Industri, HKI Gandeng Dua Kementerian

Kebutuhan tenaga kerja terampil merupakan tantangan nyata yang mempengaruhi rencana pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Masih ada 20 tahun lagi, tetapi Indonesia harus bergerak cepat.

Menjawab Kebutuhan Industri

Di tengah tantangan itu, kerja sama bilateral Indonesia-Australia melahirkan Indonesia-Australia Skills Exchange (IASE), sebuah platform yang mempertemukan perusahaan di Indonesia dengan lebih dari 50 penyedia pendidikan Australia dan lebih dari 300 kursus pelatihan.

IASE adalah direktori dan pasar yang menghubungkan pemberi kerja Indonesia dengan universitas, TAFE, dan penyedia spesialis Australia. Semua organisasi pelatihan yang berpartisipasi dijamin kualitasnya oleh Katalis, dan pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja Indonesia. 

Melalui situs IASkills.org, pemberi kerja dapat mencari kursus yang relevan, menghubungi penyedia pelatihan, atau mengajukan tender sesuai kebutuhan.

Menurut Skills Lead Adviser Katalis, Clarice Campbell, IASE dirancang agar praktis digunakan oleh dunia usaha.

“Jika perusahaan memiliki kebutuhan pelatihan tertentu, Anda dapat mempostingnya di platform dan penyedia akan membalas,” kata Clarice.

Fokus pelatihan tidak hanya pada keterampilan teknis, tetapi juga soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, dan pemikiran kritis. Hal ini penting, terutama di sektor pariwisata, yang pada kuartal III 2024 menyumbang 4,01 persen terhadap PDB dan kini berkembang ke kota-kota sekunder.

Perkembangan itu mendorong kebutuhan pekerja dengan kemampuan pemasaran digital, analitik data, hingga desain pengalaman pelanggan.

Direktur Katalis Paul Bartlett mengatakan penyedia pendidikan Australia dapat mengisi kesenjangan tersebut.

“Di situlah bisnis dapat berkembang, menggabungkan kemampuan di bidangnya dengan kepemimpinan, komunikasi, dan pemikiran kritis,” ujar Paul.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved