Wamen Viva Yoga: Pembangunan di Kawasan Transmigrasi Untuk Transmigran dan Warga Lokal
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan ada 619 kawasan transmigrasi yang tersebar dari Sabang, Aceh; hingga Merauke, Papua Selatan.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan ada 619 kawasan transmigrasi yang tersebar dari Sabang, Aceh; hingga Merauke, Papua Selatan.
Namun, saat ini yang menjadi prioritas pembangunan nasional dan fokus Kementerian Transmigrasi sebanyak 154 kawasan.
Di 154 kawasan saat ini tengah dijalankan program revitalisasi agar masyarakat yang menetap di sana meningkat kesejahteraannya.
Hal itu diungkapkan Wamen Viva Yoga saat menjadi tamu dalam program ‘Wawancara Eksklusif Tribunnews.com’, di Palmerah, Jakarta, pada Rabu (27/8/2025).
Lebih lanjut dalam wawancara yang dipandu Apfia Tioconny Billy, dikatakan kawasan transmigrasi ditempati transmigran dan masyarakat setempat atau lokal.
Baca juga: Wamen Viva Yoga: Transmigrasi Bukan Hanya untuk Transmigran, tapi Juga Warga Lokal
Tanggungjawab Kementerian Transmigrasi ditegaskan tidak hanya memberdayakan ekonomi para transmigran namun juga masyarakat setempat.
“Kami bertanggungjawab memberdayakan seluruh warga yang tinggal di kawasan transmigrasi," ujarnya.
Viva menjelaskan, di Kawasan Transmigrasi Hialu yang berada di Desa Sabandente, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, antara transmigran dan warga setempat hidup berdampingan dengan damai.
Baca juga: Momen Wamen Transmigrasi Viva Yoga Gendong Balita Saat Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Tebet
“Mereka hidup selaras," ujarnya.
Ada proses kehidupan yang saling menerima dan memberi serta menguntungkan bagi semua.
“Mereka saling bergotong royong," ujarnya.
Viva Yoga bahkan mengatakan warga di sana menyerahkan tanah yang sudah bersertifikat SHM seluas 1.000 Ha untuk program transmigrasi.
Transmigrasi yang diinginkan diperuntukan untuk transmigran lokal 80 persen dan transmigran dari luar 20 persen.
Mereka membutuhkan transmigran selain agar kehidupan menjadi lebih dinamis juga untuk menciptakan kawasan pertumbuhan.
“Mereka ingin desa yang ada menjadi berkembang," ujarnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.