Senin, 1 September 2025

Demonstrasi di Berbagai Wilayah RI

Sahroni, Eko, Uya: Trio DPR yang Dicari Pendemo dan Netizen, Satu Kena Serbu

Tiga nama DPR diteriakkan massa, satu rumah diserbu. Kata rakyat pedas, aksi brutal, siapa yang benar-benar hadir saat negara dipanggil?

Penulis: Abdul Qodir
Kolase Tribunnews/tvr.parlemen
DEMO BUBARKAN DPR - Anggota DPR RI Ahmad Sahroni (NasDem-kiri), Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio, PAN-kanan bawah) dan Surya Utama (Uya Kuya, PAN-kanan atas), di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, belum lama ini. Ketiga figur publik itu menjadi sorotan pendemo dan netizen setelah pernyataan dan tingkahnya yang dinarasikan terkait gaji dan tunjangan DPR hingga Rp 120 juta per bulan hingga menjadi awal demo Bubarkan DPR. 

Uya Kuya juga sempat disorot karena pernyataannya yang menyebut gaji Rp3 juta “tidak besar,” yang menuai kritik luas dari masyarakat.

Komentar netizen dalam siaran langsung saat rumah Sahroni digeruduk:

“Rumah Uya Kuya sama Eko jangan lupa.”

Baca juga: Tetangga Sebut Ahmad Sahroni ke Singapura saat Rumahnya Digeruduk Massa, Warga Merasa Khawatir

Puan Maharani Masuk Radar Sorotan

Ketua DPR RI Puan Maharani juga menjadi bagian dari sorotan publik. Dalam beberapa orasi, massa menyebut janji Puan untuk membuka pintu DPR bagi rakyat sebagai “janji palsu.”

Seruan seperti: “Puan, dibuka yok lebar-lebar pintu DPR. Mana janjinya Puan yang bilang pintu dibuka lebar-lebar? Janji palsu” menggema di tengah kerumunan demonstran, menandakan harapan besar terhadap keterbukaan lembaga legislatif.

Kritik dari Akademisi

Peneliti BRIN, Aisah Putri Budiatri, menyoroti minimnya kehadiran moral dan fisik anggota DPR dalam momentum krusial ini. Ia menyebut bahwa beredar kabar mengenai kunjungan luar negeri oleh beberapa anggota dewan yang dinilai tidak mendesak.

“Bahkan, tersebar kabar jika anggota DPR akan melakukan kunjungan ke luar negeri dengan sebagian agenda dilakukan mengandung unsur ‘jalan-jalan’ tanpa agenda penting. Miris sekali,” ujar Aisah.

Baca juga: 6 Pernyataan DPR soal Tunjangan Rp50 Juta yang Diduga Awal Demo hingga Terjadi Tragedi Affan

Ketika Lidah Tak Bertulang dan Telinga Wakil Rakyat Tak Mendengar

DEMO MAHASISWA - Massa yang terdiri dari elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa didepan Gedung Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Pada aksinya massa menuntut kepolisian untuk mengusut tuntas pelaku penabrak driver ojol Affan Kurniawan hingga tewas. Tribunnews/Jeprima
DEMO MAHASISWA - Massa yang terdiri dari elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa didepan Gedung Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Pada aksinya massa menuntut kepolisian untuk mengusut tuntas pelaku penabrak driver ojol Affan Kurniawan hingga tewas. Tribunnews/Jeprima (TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

Di tengah gelombang suara rakyat yang menggema dari jalanan hingga jagat digital, ucapan para wakil rakyat diuji bukan hanya oleh mikrofon, tetapi oleh kenyataan.

Ketika lidah tak bertulang melontarkan kata-kata yang menyulut amarah, dan telinga wakil rakyat tak lagi peka terhadap jeritan publik, maka jarak antara parlemen dan rakyat bukan sekadar fisik—melainkan kepercayaan yang retak. 

Demonstrasi ini bukan hanya tentang tuntutan, tetapi tentang harapan yang menuntut untuk didengar, dijawab, dan dihormati.

Catatan: Kutipan dari netizen dan demonstran dalam artikel ini merupakan representasi opini publik yang beredar di media sosial dan ruang demonstrasi. Pernyataan tersebut tidak mewakili kebenaran hukum atau sikap resmi lembaga. (Tribunnews.com/BangkaPos.com/Tribunjatim.com/Kompas.com)

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan