Selasa, 19 Mei 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Ribuan Anak Keracunan MBG, Ketua IDAI: Indonesia Harusnya Bisa Belajar dari Malaysia

Ribuan anak-anak yang semestinya mendapat nutrisi malah harus dirawat lantaran gangguan pencernaan dan masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
Tribun Jabar/Rahmat Kurniawan
KERACUNAN MBG - Kondisi siswa yang mengalami keracunan MBG saat dirawat di GOR Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat pada Rabu (24/9/2025). 

​TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tragedi keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan luka mendalam bagi keluarga korban. Ribuan anak yang semestinya mendapat nutrisi malah harus dirawat karena gangguan pencernaan hingga masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Baca juga: BGN Wajibkan Tukang Masak di Dapur MBG Punya Sertifikat Kompetensi

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar persoalan kecil. “Program yang niatnya baik, niatnya tulus, MBG itu kan niatnya bagus sebetulnya. Tapi karena kemudian ada satu dan lain hal, dalam pelaksanaannya bisa membuat angka kesakitan dalam hal keracunan makanan, bahkan disebutkan ini menjadi KLB,” ujarnya pada media briefing virtual, Kamis (25/9/2025).

Isu alergi sempat mencuat. Namun menurut dr Piprim keracunan bisa dipastikan karena terjadi serentak dialami ribuan anak dalam waktu yang sama, setelah makan jenis makanan yang serupa. Hal ini jelas membedakannya dari kasus alergi yang hanya menimpa sebagian kecil anak dengan gejala khas.

Indonesia bisa belajar dari Malaysia yang sejak lama menjalankan Rancangan Makanan Tambahan (RMT). Program itu terbukti sukses karena targetnya jelas.

Seperti anak miskin, anak disabilitas, dan masyarakat adat. Keberhasilan RMT bukan hanya soal gizi, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta.

Lebih lanjut dr Piprim menilai, MBG di Indonesia bisa menempuh jalur serupa. “Ini bagus kalau kemudian MBG bisa menginspirasi perusahaan-perusahaan untuk (program) Corporate Social Responsibility (CSR)-nya diberikan dalam bentuk makanan bergizi gratis, khususnya untuk anak-anak 3T,” jelasnya.

IDAI juga mendesak adanya evaluasi total agar program MBG tetap berjalan tanpa menimbulkan korban. Proses produksi hingga distribusi makanan perlu dipastikan aman sesuai standar kesehatan.

Baca juga: Kasus Keracunan MBG di Berbagai Daerah, Komnas PA: Pelanggaran Hak Kesehatan Anak

“Sudah cukup jangan jatuh lagi (korban) keracunan. Bagaimana caranya? Silakan dievaluasi dan mana yang perlu diperbaiki,” kata dr Piprim menegaskan.

Program MBG adalah langkah mulia untuk memperkuat masa depan anak bangsa. Namun tanpa pengawasan yang ketat, niat baik bisa berubah menjadi petaka.

Tragedi ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem, agar anak-anak Indonesia benar-benar mendapat haknya atas gizi yang aman dan sehat.

MBG adalah program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang berjalan sejak 6 Januari 2025, dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Tujuan awalnya menyediakan makanan bergizi gratis untuk anak sekolah, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Dengan target penerima  82,9 juta orang.

MBG pertama kali diluncurkan pada 6 Januari 2025. Program ini untuk memenuhi janji kampanye Prabowo Subianto saat mencalonkan presiden RI di Pilpres 2024 lalu.

Sebagai informasi, kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terjadi di sejumlah daerah. Terbaru kasus dugaan keracunan MBG terjadi di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Sejak program ini diluncurkan pada 6 Januari 2025 lalu atau 9 bulan berjalan ini, pemerintah melaporkan jumlah penerima manfaat terdampak insiden keamanan pangan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved