Selasa, 12 Mei 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Tan Shot Yen, Ahli Gizi Kritik Menu MBG, Bahas Burger hingga Kastanisasi Makanan

Tan menilai pembagian menu makanan yang cenderung kastanisasi, salah satunya isian burger ada yang chiken katsu ada yang olahan lain

Tayang:
dok. Kompas
MAKAN BERGIZI GRATIS - Dokter ahli gizi dan Ahli Kesehatan Dr. Tan Shot Yen menyoroti soal menu makanan di Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI, Senin (22/9/2025) ia mmeberikan kritik pedas. 

TRIBUNNEWS.COM - Ahli gizi masyarakat, Dokter Tan Shot Yen, memberikan kritik soal menu Makan Bergizi Gratis (MBG) progam Presiden Prabowo Subianto.

Tan menyinggung fenomena yang terjadi di lapangan soal pembagian menu makanan yang cenderung kastanisasi.

Di area yang dekat dengan pemerintahan pusat, makanan dibuat layak dengan memperhatikan kualitas.

Sementara di daerah, kualitas makanan cenderung menurun.

"(Misalnya) burgernya itu kastanisasi juga, kalau yang dekat dengan pusat supaya kelihatan bagus dikasih chicken katsu."

"Tapi coba kalau yang di daerah yang SPPG-nya juga sedikit main, dikasih itu loh benda tipis berwarna pink, saya aja nggak pernah mengatakan ini adalah daging olahan. Saya aja nista bilang itu daging olahan, saya nggak tahu itu produk apaan."

"Itu rasanya kayak karton, warnanya pink dan buat lucu-lucuan nih. Lalu anak-anak disuruh, oke, do it your own. Susun, ada sayurnya. Astaga, kan bukan itu tujuan MBG, punten," ungkap Tan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI, Senin (22/9/2025).

Di sisi lain, Tan menyoroti soal menu burger itu sendiri.

Tan menilai menu MBG seperti burger hingga spageti tidak layak diberikan kepada anak-anak bangsa.

Burger hingga spageti, kata Tan, adalah makanan olahan gandum, di mana gandum bukan tanaman lokal Indonesia.

"Yang dibagi adalah, adalah burger. Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia, nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia."

Baca juga: MBG dan Racun Calo Pengadaan: saat Gizi Menjadi Ladang Komisi

"Dibagi spageti, dibagi bakmi Gacoan, oh my god," ujar Tan.

Menurut Tan, dapur MBG tak harus mengikuti permintaan anak-anak.

Menu makanan yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan gizi.

"Saya setuju bahwa ada anak yang tidak suka dengan pangan lokal karena mereka tidak terbiasa, tapi bukan berarti lalu request anak-anak lalu dijawab oleh dapur, ya wislah.... Kalau request-nya cilok? Mati kita," jelas Tan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved